ALAMAT : KANTOR PUSAT & ASRAMA PUTRI 1 JL. MERBABU NO 26 KODE POS 63121 TLP. 0351-453920, ASRAMA PUTRI 2 JL. JOIRANAN NO 25, ASRAMA PUTRA JL. TRENGULI NO 18B, rintisan mbs hamka jl poncowati demangan kota madiun
Home » , » Tidak untuk di Baca! "Arti sebuah pengorbanan"

Tidak untuk di Baca! "Arti sebuah pengorbanan"

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Maret 01, 2014 | 12.50

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa pengorbanan dalam hidup adalah sebuah keharusan.
Terkadang sebagian kita beranggapan kesusahan dan kesempitan hidup yang kita alami membuat kita berfikir tidaklah perlu mengorbankan sebagian apa yang kita punya, karena pada dasarnya kesusahan dan kesempitan itu telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kelapangan hidup.  Disadari atau tidak dampak dari sebuah pengorbanan sekecil apapun yang kita lakukan mampu membuat yang tidak mungkin dalam hidup kita menjadi mungkin, yang dulunya hanya sebuah angan-angan dapat menjadi kenyataan. Mengapa demikian? 

Karena itu merupakan kemuliaan dari sebuah pengorbanan. Perlu kita ketahui bahwa orang mulia bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan pengorbanannya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Dengan pengorbanan, Allah SWT menyayangi kita, manusia menghargai kita, malaikat mendoakan memohonkan rahmat untuk kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 15: 

 "Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya)."

Dalam sebuah kisah, yang dikutip dalam buku yang berjudul Bukan Untuk Dibaca The Inspiring Story karya Deassy M. Destiani. Mari kita simak sejenak sebagai renungan, Aku dilahirkan di dusun pegunungan yang sangat terpencil dengan udara yang sangat dingin. Setiap hari orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik tiga tahun lebih muda dariku. Saat itu aku 11 tahun dan adikku 8 tahun. Suatu ketika untuk membeli sapu tangan yang gadis-gadis di sekelilingku memakainya, aku mencuri 10 sen dari laci ayahku. Namun ayahku segera menyadarinya, beliau membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok dengan tongkat bambu di tangannya. 

“Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya. Aku terpaku karena terlalu takut untuk berbicara. “Baiklah, karena tidak mengaku kalian berdua layak dipukul!” lanjut ayahku, dan ayah mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Namun tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”. Tongkat panjang itu pun menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Sesudahnya ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi “Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kau lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”. Malam itu aku dan ibu memeluk adikku dengan tubuh yang penuh luka sambil menangis tetapi ia tidak meneteskan air mata sedikitpun. Tangan kecilnya menutup mulutku yang terus menangis sambil berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang, semuanya sudah terjadi”. Sejak saat itu aku sangat membenci diriku karena tidak punya cukup keberanian untuk mengakui kesalahanku. Meskipun telah bertahun-tahun berlalu rasanya kejadian itu terasa baru terjadi kemarin. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di ibu kota kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima di sebuah universitas di ibukota provinsi. Malam itu ayah duduk di depan rumah sambil menghisap tembakau ditemani ibu. Aku mendengarnya bergumam, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik”. Ibu mengusap air matanya dan menghela napas sambil berkata, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Sepontan adikku berlari keluar dan berkata “Ayah aku tidak usah melanjutkan sekolah, sudah cukup membaca banyak buku.” Tangan ayah yang kokoh mendarat di pipi adikku dan kemudian berkata “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat? Meski harus mengemis aku akan membiayai kalian berdua sampai selesai!”. 

Dan begitulah ia mulai mengetuk setiap pintu rumah tetangga kami untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku ke muka adikku yang membengkak, “Seorang anak laki-laki harus sekolah setinggi-tingginya, jika tidak maka akan tetap terbelenggu dalam kemiskinan, dan aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke universitas”. Siapa sangka keesokan harinya adikku meninggalkan rumah dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku “Kak masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas itu dan menangis hingga suaraku hilang. Tahun itu, aku berusia 20 tahun dan adikku 17 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkuti semen pada punggungnya di lokasi proyek pembangunan, akhirnya kuliahku hingga tahun ke tiga di universitas. Malam itu aku sedang belajar di kamar kosku dan tiba-tiba temanku memberitahu “Ada penduduk dusun yang mencarimu di luar”. Seketika aku keluar dan kaget melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu dengan baju lusuh dan penuh pasir, “mengapa kamu tidak bilang pada temanku kalau kamu adikku?” kataku sambil ku bersihkan sisa pasir dan semen dari bajunya. Sambil tersenyum adikku menjawab, “Lihat penampilanku. Apa yang akan mereka pikir, jika tahu aku adalah adikmu? Mereka akan menertawakanmu”. Air mataku kembali membentuk anak sungai di pipiku, “Apapun keadaanmu, kamu tetap adikku, aku tak peduli omongan siapapun!”. Adikku mengeluarkan sebuah jepit rambut indah berbentuk kupu-kupu dari sakunya dan menyelipkannya di rambutku sambil berkata, “Aku melihat banyak teman-temanmu memakainya, jadi kupikir kamu juga harus memilikinya”. Segera ku tarik tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku dengan tangisanku yang tersedu-sedu. Tahun itu, adikku genap 23 tahun dan aku 26 tahun. Aku akan menikah rumahku diperbaiki, kaca jendela yang pecah juga telah diganti. Aku bilang pada ibu, “Ibu tidak perlu repot-repot membersihkan rumah, biar aku saja”. Sambil tersenyum ibu menjawab, “Semua itu adikmu yang melakukannya, apa kamu tidak melihat tangannya terluka kena kaca yang pecah?”. Aku masuk ke kamar sempit adikku, melihat mukanya yang kurus seratus jarum serasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep ke tangannyan, “Pasti ini sakit?” tanyaku. “Tidak, tidak sakit kak, kamu tahu kak saat aku bekerja di proyek, batu-batu sering berjatuhan mengenai kakiku, bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan...”, di tengah kalimat itu ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku karena tak mampu menahan air mataku. Saat aku sudah menikah, perekonomianku membaik karena suamiku menjadi direktur di perusahaannya. Dan aku mengajak kedua orang tuaku dan adikku untuk tinggal bersama, namun mereka menolak. “Kak jagalah mertuamu saja, aku akan menjaga ibu dan ayah di sini”, penolakan adikku. Suamiku menginginkan adikku menjadi manajer di departemen pemeliharaan di perusahaan yang dia pegang, namun lagi-lagi dia menolak dan memilih menjadi pekerja reparasi. Suatu hari adikku masuk rumah sakit karena jatuh dari ketinggian akibat tersengat listrik. Aku dan suamiku menjenguknya. Melihat gips putih di kakinya aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Menajadi manajer tidak akan pernah melakukan hal yang membahayakan seperti ini! Lihat kamu sekarang luka yang begitu serius, mengapa tidak mau mendengar kami sebelumnya?”.  Adikku mengeluarkan pembelaannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, gosip seperti apa yang akan tersiar di kantornya?”. Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dengan terbata-bata aku berkata, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”. Adikku menggenggam tanganku, “Mengapa membicarakan masa lalu?”. Waktu terus berlalu, ketika adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis dari dusun. Dalam acara pernikahan, pembawa acara bertanya padanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”. Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku” ia melanjutkan cerita yang tidak bisa aku ingat sama sekali. “Ketika aku pergi ke sekolah SD yang terletak di dusun lain. Setiap hari aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk sampai ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku dan kakakku memberikan satu dari sarung tangannya padaku dan ia memakai hanya satu dengan jarak yang jauh itu. Setibanya di rumah tangan kakaku sangat gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai-sampai tidak dapat memegang sendoknya untuk makan. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya”. Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Aku tak dapat berkata apa-apa air mataku sangat deras mengalir dan dadaku sesak.

Begitulah Allah menampakkan kemuliaan pengorbanan hambanya yang ikhlas, pertolongan itu datang dari arah yang tidak disangka sebelumnya yaitu melalui adiknya. Keluar dari cerita di atas, kita sebagai umat muslim, seperti apapun kondisi kita, berapapun usia kita saat ini, pertanyaan yang mendasar untuk kita semua seberapa banyak pengorbanan yang telah kita lakukan untuk meringankan beban orang lain dengan cara saling tolong menolong, meskipun melalui hal yang sangat kecil? Bukankan masih jelas dalam ingatan kita QS. Al-Maidah ayat 2 Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong,
                                                                                                                               
 Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
 
Jika kita masih bisa menjawab dengan satu pengorbanan yang pernah kita lakukan, mungkin kita tidak terlalu malu dihadapan Allah. Jika kita hanya berharap kebaikan dan pengorbanan orang lain terhadap kita, bagaimana kita hendak mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah. Mungkin sebagian dari kita bergumam dalam hati, saya kan orang miskin, bisa makan setiap hari saja sudah untung, atau masih untung gaji bulanan saya bisa sampai satu bulan, bagaimana mau berkorban atau menolong orang lain? Sudahkah kita lupa nikmat yang Allah berikan kepada kita, berupa nikmat sehat, akal, panca indra yang lengkap dan masih banyak lagi. Mengapa itu tidak kita gunakan untuk sebuah pengorbanan yang berarti bagi orang lain? Hanya sekedar senyum pada saudara kita, barangkali dapat meringankan hatinya yang sedang sedih, atau hanya sekedar menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang lain. 

Jangan menyimpan banyak alasan untuk menghindari sebuah pengorbanan. Karena sesungguhnya hal itu akan menuntun kita pada pengingkaran nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita menginginkan nikmat Allah selalu terlimpahkan kepada kita maka jangan sekali-kali mengingkarinya dengan tidak mensyukurinya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita sebanyak 30 kali dalam QS. Ar-Rahman untuk tidak mendustakan nikmatnya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mari kita bermuhasabah diri._pita_κύτες
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | admin | Mas Template
Copyright © 2011. Panti-Asuhan-Muhammadiyah-Madiun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by admin wabsite PA Ponpes Muhammadiyah Madiun