ALAMAT : KANTOR PUSAT & ASRAMA PUTRI 1 JL. MERBABU NO 26 KODE POS 63121 TLP. 0351-453920, ASRAMA PUTRI 2 JL. JOIRANAN NO 25, ASRAMA PUTRA JL. TRENGULI NO 18B, rintisan mbs hamka jl poncowati demangan kota madiun
Diberdayakan oleh Blogger.
ASRAMA UPTODATE

Sejarah panti Asuhan dan Pondok pesantren Muhammadiyah madiun

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on November 08, 2012 | 10.58

Eksistensi Muhammadiyah sebagai gerakan sosial-keagamaan semakin kokoh seiring dengan semakin bertambahnya usia gerakan ini. Hal ini bisa dilihat, misalnya dari banyaknya lembaga pendidikan dan amal  usaha lainnya yang dimiliki Muhammadiyah di berbagai bidang. Di luar persoalan itu, Muhammadiyah kini menghadapi satu tantangan yang cukup berarti terutama berkaitan dengan bagaimana melakukan reformulasi doktrin-doktrin ajaran yang selama ini berkembang di kalangan Muhammadiyah. Reformulasi itu menjadi penting mengingat konteks yang dihadapi oleh Muhammadiyah sekarang jauh berbeda dengan konteks yang dihadapi di masa lalu. Terlebih sebagai gerakan dakwah, maka tantangan itu menjadi semakin kompleks dan perlu dilakukan langkah-langkah cerdas untuk mengantisipasinya.

Muhammadiyah adalah sebuah state of mind yang  menggerakkan sekian banyak aktifitas. Karena itu, pada dasarnya seluruh aktifitas Muhammadiyah selalu didasarkan pada basis pemikiran yang matang dan terarah. Demikian juga dalam bidang keagamaan, doktrin Muhammadiyah selalu didasarkan pada perpaduan antara rasionalisme dan tekstualisme. Perpaduan inilah yang pada gilirannya melahirkan dinamika pemikiran dalam Muhammadiyah. Sayangnya, akhir-akhir ini sering muncul kritik bahwa Muhammadiyah cenderung mandek dalam melakukan pembaharuan pemikiran seperti yang pernah terjadi di masa lalu

Dengan berbijak  pada al-Quran surat al Ma’un ayat 1-3 artinya, “ Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mau memberi makan orang-orang miskin”. Menginspirasi K.H Ahmad Dahlan melalui  persyarikatan Muhammadiyah  mendirikan panti asuhan guna menyantuni kaum mustadaafun, dan pada perkembangan berikutnya di pimpinan Muhammadiyah tingkat daerah juga banyak  mendirikan amal usaha di bidang sosial yang  juga merupakan apresiasi atas pemahaman terhadap surat al quran diatas

Kelahiran Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun merupakan salah satu Amal Usaha Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Madiun. Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun berdiri sebagai wujud kepedulian Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Madiun dalam menghadapi permasalahan sosial yang terjadi dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun berdiri untuk membantu mengurangi beban masyarakat terutama masalah kemiskinan dan kebodohan. Perhatian utama dari Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun adalah masalah  pendidikan anak-anak. Untuk itu Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun memberi bantuan kepada masyarakat marginal (du’afa, mustada’afun, fuqara, masakin) untuk menitipkan anak-anaknya di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun yang nanti akan di didik, di bina dan disekolahkan oleh Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun

Perhatian utama dari Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun terhadap anak-anak ialah masalah pendidikan, yang meliputi pendidikan umum dan pendidikan agama. Selain itu Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Madiun juga menanggung semua biaya hidup dan kebutuhan anak-anak selama menjadi anak asuh di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun. Selain pendidikan umum dan agama, anak-anak asuh juga diberi pelatihan-pelatihan  ketrampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal kelak jika anak asuh sudah lulus dari pendidikan di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun

Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun berdiri pada bulan Agustus 1981 atas prakarsa ( alm ) drg. Hj. Kresno, ( alm ) Bpk/ Ibu Muslimin, Ibu Hj. Oesman, Bpk/ Ibu Syakuri, Bpk/ Ibu Sastro Darmodjo. Pada awal berdiri Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun bernama Panti Asuhan Yatim Piatu (PAYP) Muhammadiyah Madiun yang lokasinya di Jl. Merbabu (depan dawet suronatan) dengan cara menyewa, selain itu menempati rumah di Gang Muria. Kemudian pada tahun 1990-an pengelola panti membeli gedung di Jl. Merbabu No. 26 kota Madiun kemudian gedung tersebut direnovsi total dan dipergunakan sebagai asrama putra. Untuk asrama putri menempati rumah wakaf di jalan Joiranan No. 25 Kota Madiun. Kemudian pada tahun 2009-2011 memanfaatkan tanah wakaf di jalan Trengguli No. 18 B dibangun asrama III dan dipergunakan untuk asrama putra. Kemudian kepengurusan panti secara turut temutut dipimpin oleh drg. Kresno kemudian digantikan oleh H. Suwoto (Pegawai Depag Kota Madiun), pada tahun 2000-an dipimpin oleh Ir. Saadi Sarbini, pada tahun 2005 di pimpin oleh bapak Nur Sofyan, selanjutnya pada tahun 2007 kepempinan dipegang oleh Drs. Suyono, M.pd. dan pada periode berikutnya tahun 2010-2015 masih diamankahkan kepada Drs. Suyono, Mpd

Dinamika perkembangan panti asuhan muhammadiyah menunjukkan perkembngan yang signifikan yakni di mulai pada tahun 2009 dengan memberoleh proyek dari kementrian pertanian untuk mendirikan unit usaha jamur tiram. Kemudian pada tahun 2010 dirintis unit usaha warung makan HATMI dan sampai sekarang Alhamdulillah berkembang pesat dengan total asset penjualan setiab bulan 1 Juta. Dan di tahun 2011  diresmikannya asrama putra jalan trengguli 18 B yang pembangunannya dimulai tahun 2008 yang menghabiskan dana sebesar kurang lebih 450 juta. Kemudian berdasarkan program jangka panjang berencana mendirikan komplek panti asuhan dan pondok pesantren (Muhammadiyah Boarding school) yang sampai saat ini berencana membebaskan lahan seluas 3175M2 di jalan poncowati (belakang crop polisi Militer Madiun). 

Maka untuk itu kami mohon dukungannya bapak/ibu/saudara/i atau dermawan sekalian untuk mewujudkan cita-cita tersebut yang rencana pembangunannya menghabiskan dana sebesar 2.5 Milyar. Kami membuka infaq, shadaqoh, donasi, wakof tunai/kridit untuk pembebasan lahan per 1 M 200 ribu. Untuk itu mari berfastabiqul qhairot untuk memperolih surganny Allah dengan membantu pembangunan panti asuhan, segera hubungi kantor pusat kami di JL. MERBABU NO 26 KOTA MADIUN kode pos 63121 tlp. 0351-453920 atau hub 085755563295 a/n Arif Sugianto. Demikian sejarah singkat dari lembaga kami, atas berkenannya sowan kami ucapkan terimakasih banyak. pnl_giea503

Alamat Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Jawa Timur


PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB BOJONEGORO Jl. Teuku Umar No. 48, Bojonegoro Telp. 0353-885403, 881198; Fax. 0353-885403

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA SURABAYA Jl. Sutorejo (Labansari) 73-77 Surabaya 60113; Telp./Fax. 031-3824240 Email: muhammadiyahsurabaya @gmail.com

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB SUMENEP Jl. Urip Sumoharjo No. 14 Pabian Sumenep; Telp./Fax. 0328-662797 Email: info@smamutu-smp.sch.id


 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB PAMEKASAN Jl. Kamboja 25, Pamekasan 69313 Telp./Fax. 0324-322754

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB BANGKALAN Jl. KHM Kholil No. 31, Bangkalan Telp. 031-3097051

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB JOMBANG Jl. Dr Soetomo No. 15, Jombang 61419 Telp. 0321-874589, 861210

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA KEDIRI Jl. Urip Sumoharjo No. 110, Kediri Telp. 0354-687063 Email: pdm.kota.kediri@gmail.com

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB PONOROGO Jl. Jawa No. 38 Mangkujayan, Ponorogo 63411, Telp./Fax. 0352-481680 E-mail: mentari_reog@plasa.com

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB PASURUAN Jl. Alun-alun Timur No. 2 Bangil 67153 Telp. 0343-478714

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB NGAWI Jl. KHA Dahlan No. 26 Ngawi Telp. 0351-747300

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB TRENGGALEK Jl. Sunan Kalijogo No. 1, Trenggalek Telp. 0355-794907, 791449; Fax. 0355-793426

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB LUMAJANG Jl. Imam Suja’I No.17 Lumajang Telp. 0334-7700009; 881409; Fax. 0334-894134; 890423

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB LAMONGAN Jl. Lamongrejo No. 109-111, Lamongan 62213; Telp. 0322-321130; Fax. 0322-322075 Email: info@pdmlamongan.org

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB NGANJUK Jl. Prof Gondowardoyo No. 5, Nganjuk Telp./Fax. 0358-322507

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB BANYUWANGI Jl. Adi Sucipto No. 14 Banyuwangi Telp./Fax. 0333-423080, 427425

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB MAGETAN Jl. MH Thamrin No. 18, Magetan 63314 Telp. 0351-895822, 895164; Fax. 0351-892580

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA BLITAR Jl. Ir. Sukarno No. 38 Kota Blitar, Jawa Timur Telp. 0342- 807516; Fax. 0342-805948

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB TUBAN Jl. Pramuka I/10 Tuban 62313 Jawa Timur Telp. 0356-332972 / 0356-321334, 323610; Fax. 0356-323610

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB PROBOLINGGO Jl. Letjend Suprapto No. 55 Kraksaan Probolinggo 67282 Jawa Timur (CP: M. Rudy Bachtiar: 085258046100 / 0335-612874) Telp. 0335-841010, 846490; 842207; Fax. 0335-846490

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA MALANG Jl. Gajayana No. 28-B, Malang 65144 Telp. 0341-567322, 567426; Fax. 0341-567322

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB SITUBONDO Jl. Basuki Rahmat 221 Situbondo 68322 Telp./Fax. 0338-672079

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB GRESIK Jl. KH. Wakhid Hasyim V/13 Gresik Telp. 031-3952484, 3970707, 5033586; Fax. 031-3952484, 3940216 Email: pdm_gresik@yahoo.or.id / pdpmgresik.wordpress.com

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB TULUNGAGUNG Jl. RA Kartini No. 35, Kotak Pos 122 Tulungagung 66211 Telp. 0355-321205; Fax. 0355-321205

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB JEMBER Jl. Bondoyudo No. 7 Jember 68118 Telp./Fax. 0331-481912 Email: pdmjember@gmail.com

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA MOJOKERTO Jl. Mojopahit No. 473, Mojokerto 61321 Telp. 0321-322535, 323910; Fax. 0321-322535

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB SAMPANG Jl. Durian 4-C, Sampang 69211 Telp. 0323-322184, 323588; Fax. 0323-321562

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB SIDOARJO Jl. Majapahit No. 666 B Sidoarjo 61215 Telp. 031-8928323, 8921590, 8921591; Fax. 031-8949333 Email: www.pdmsidoarjo.org

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB BONDOWOSO Jl. Mayjen Panjaitan No. 48 Bondowoso 66211 Telp. 0332-421950

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA MADIUN Jl. Mastrip No 18 Madiun 63117 Telp./Fax. 0351-452316 Website://http.pd-muh-kt-mdn.blogspot.com

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB PACITAN Jl. K Hamid Dimyati No. 19, Pacitan 63512 Telp/Fax. 0357-881742

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA PASURUAN Jl. KH Wachid Hasyim No. 72, Pasuruan 67114 Telp. 0343-412673; Fax. 0343-412673, 424638

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB MALANG Jl. Raya Sengkaling No. 146, Malang 65151 Telp. 0341-462718

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB KEDIRI Jl. Tegalan No.90 Rt. 07 Rw. 02 Ngasem Kec. Gampengrejo Kediri 64182 Jawa Timur Telp. 0354-682893

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA BATU Jl. Bukit Berbunga No. 175 Sidomulyo, Kota Batu Telp. 0341-591025, 594558

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KOTA PROBOLINGGO Jl. Sukarno-Hatta 94-B Probolinggo 67219 Telp. 0335-420354, 429277

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB MADIUN d/a SMA Muhammadiyah 2 Geger, Jl. Lapangan Uteran, Kab Madiun Telp. 0351-366707; 7717182

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB BLITAR Jl. Satrean, Desa Jatinom, Kanigoro, Blitar Telp. 0342-803568 / 805948, 801662; Fax. 0342-805948

 PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH KAB MOJOKERTO Jl. Raya Kembangsari, No. 54 Ngoro-Mojokerto 61385 Telp. 0321-6817231

MUSIM HUJAN YANG DINANTI BANYAK ORANG

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Oktober 25, 2012 | 20.58


HUJAN


ilustrasi hujan deras
            Bagi Kang Karmin, hujan merupakan karunia Tuhan yang tidak terhingga. Dalam doanya ia selalu berharap musim hujan akan lebih panjang dari kemarau. Wajarlah kalau Kang Karmin menginginkan begitu, sebab ia hanyalah petani tadah hujan. Sawahnya hanya sepetak di lereng gunung, di areal hutan jati milik Perhutani yang telah gundul. Pantasnya mungkin bukan sawah tapi tegalan. Ketika turun lapangan, kami mendapati hampir semua warga desanya mengatakan bahwa problem utama saat kemarau adalah air. Membuat sumur terlalu mahal bagi mereka karena kedalamannya bisa puluhan meter. Itupun belum tentu sumber airnya besar. Mengandalkan kali yang melintasi desa mereka juga tidak bisa, sebab semuanya pada kering. "Satu-satunya yang bisa diharapkan ya hujan mas" kata Kang Karmin saat itu.

            Sekaranglah musim yang dinantikan oleh Kang Karmin dan para tetangganya. Dalam hatinya terbetik kesempatan di mana ia bisa menanami tegalnya dan memberi minum sapi-sapi piarannya dengan leluasa. Tetapi bapak tiga anak ini mungkin tidak pernah menyangka kalau hujan yang turun saat ini demikian padat dan disertai angin kencang. 

            Menurut ramalan cuaca, itu adalah siklus dua lima tahunan, akibat dari badai yang terjadi di Australia. Kang Karmin lagi-lagi juga tidak bisa bercocok tanam. Rembesan air dari atas gunung demikian deras tidak bisa dibendung, karena hutan pelindung yang berfungsi sebagai penyerap air tidak ada lagi. Yang terjadi adalah banjir bandang disertai tanah longsor. Kang karmin dan para tetangganya sekarang sibuk menyelamatkan keluarga, mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ia hanya menunggu bencana ini kan cepat berlalu. "Kalau alam sudah bicara, apalah kuasa kita?" katanya setengah putus asa. 

            Terkadang ia ingin menghujat nasib. Mengapa ia yang telah miskin kok justru harus menanggung bencana begini? Tetapi ia teringat Kyai Shobirin di musholla pernah mengajarinya tentang prasangka baik pada Tuhan.

            "Min" kata pak Kyai, "hidup ini akan berjalan seperti apa yang kita gambarkan dalam pikirkan kita"
            "Nyuwun sewu, Kyai. Apa maksudnya?" sela Kang Karmin
            "Kalo hidup ini kita bayangkan enak, maka insyaallah apa yang kita alami akan enak".
            "Pangapunten, Kyai. Saya belum mengerti".

            "Begini, Min" jelas pak Kyai, "hidup ini kan ada yang mengatur yaitu Gusti Allah. Dan Dia mengatur hidup ini seperti yang dipikirkan oleh hamba-Nya. Kalau si hamba berpikiran positif terhadap Tuhan dan hidup ini, ya.. insyaallah hidupnya akan berjalan positif, begitu juga sebaliknya.."

             "Jadi… kalau kita berpikiran Gusti Allah itu baik, maka kesengsaraan yang kita alami itu akan terasakan sebagai wujud kebaikan-Nya, begitu Kyai?"

            "Minimal, rasa sakit akibat kesengsaraan tadi tidak menjadikan kita putus asa"
            "Sekarang saya paham, Kyai" kepala Kang Karmin sambil mantuk-mantuk

            "Hidup ini tergantung bagaimana kita menyikapinya, Min" lanjut Kyai desa ini, "dan sikap itu terbentuk dari kualitas cara pandang kita terhadap Tuhan: positifkah atau negatif. Dan begitulah jadinya… karena Tuhan sendiri pernah bicara: Aku seperti apa yang disangkakan hamba-Ku kepada-Ku…"

            Tiba-tiba Kang Karmin tersadarkan dari lamunannya oleh suara gaduh dua anaknya yang berebut sebungkus nasi hingga tumpah berceceran. Bu Karmin memarahi keduanya sambil mengingatkan pentingnya sebungkus nasi di pengungsian. Kang Karmin bangkit dari duduk karena tertarik pada photo di koran pembungkus nasi. Dipungut dan dengan kemampuan yang terbatas ia membacanya. Dari situ tahulah dia bahwa kejadian yang dialami sekarang ini juga menimpa penduduk yang lain, di desa yang lain, di daerah yang lain, di belahan Indonesia yang lain. Semuanya tersapu banjir bandang atau tertimbun tanah longsor. 

            Tragisnya, ternyata peristiwa seperti ini sudah menjadi rutinitas tahunan. Langganan di musim hujan. Dan semuanya tidak bisa (atau pantasnya: tidak mau) berbuat apa-apa. Pemerintah sibuk sendiri dengan kekuasaan dan birokrasinya yang mbulet, hingga tidak sempat (menyempatkan diri) untuk merencanakan penanggulangan banjir sebelum musim hujan tiba. Mereka cenderung menyalahkan terjadinya deforestasi (penggundulan hutan) tanpa pernah berhasil menangkap pelakunya, apalagi melakukan reboisasi. Wakil rakyat sibuk sendiri dengan kepentingan politik-ekonominya, hingga tidak lagi sensitif dengan kesejahteraan dan keselamatan pemilihnya. Tokoh dan gerakan keagamaan hanya mampu menunjukkan agama sebagai jalan kesabaran yang pasif tanpa pernah menjadikannya sebagai sumber aksi kongkret pemberdayaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana langganan ini. Semuanya mandul. Karena ternyata dalam rutinitas musim hujan ini semuanya telah terbenam dalam fatalisme yang diciptakannya sendiri.   

            Kang Karmin jadinya merasa bersalah telah mengharap hujan turun lebih lama. "Kalaulah tahu begini banyak orang sengsara, saya mungkin tidak akan begitu getol meminta hujan!" katanya lugu. Tetapi, pantaskah Kang Karmin merasa bersalah? Tentu ia tidak pantas merasa begitu karena ia bukanlah termasuk orang yang menggunduli hutan di desanya, walaupun polisi hutan sering menuduh warga desa sebagai pelakunya. Begitulah kearifan orang desa yang teramat jauh untuk dimiliki oleh kita yang telah berkubang dalam materialisme dan hedonisme. Dalam kesengsaraannya, Kang Karmin masih mampu menunjukkan empatinya pada orang lain.[]         
                      
              

MENYELAMI MAKNA QURBAN

Hewan Ternak yang siap dikorbankan


 "Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik"


Idul Adha merupakan hari besar umat Islam setelah Idul Fitri, pada hari tersebut umat Islam sedunia mengumandangkan takbir mengakui akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam, manusia dan  segala isinya. Idul Adha yang dirayakan setiap tahun, pastinya akan mengingatkan pada seseorang yang mempunyai keimanan yang luar biasa, penyabar dan senantiasa bertawakkal secara total kepada Allah Swt, sosok itu adalah Nabi Ibrahim As, bapak agama monotheisme yang selalu dijunjung tinggi oleh agama Islam, Yahudi dan Nasrani. Ibrahim As hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyembah patung dan berhala, di tengah kondisi budaya masyarakat seperti itu, Ibrahim As dengan akal sehatnya senantiasa berusaha mencari hakekat kebenaran dengan melakukan berbagai renungan dan refleksi terhadap budaya yang ada di sekitarnya, dia sama sekali keluar dari pengaruh cara berfikir masyarakat kala itu.

Dalam proses pencarian kebenaran tersebut, Ibrahim As sampailah pada titik keyakinan yang benar bahwa Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Tak Terhingga, Dia lah Tuhan yang telah menciptakan alam ini beserta segala isinya sekaligus mengaturnya, dan tentu saja secara tidak langsung telah menasakh (menghapus) keyakinan atas berhala-berhala yang sedang disembah oleh bapak dan masyarakatnya saat itu.
Hal tersebut terekam dalam firmannya dalam Surah Al An’am ayat 74 – 79: 

dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.” kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.

Nabi Ibrahim As telah meletakkan landasan-landasan agama yang mengesakan Tuhan (kebenaran yang hakiki), karenanya ditegaskan oleh Alquran, bahwa Ibrahim As bukanlah seorang Yahudi, dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi Ibrahim As adalah orang yang hanif (lurus) dan dia juga seorang muslim (yakni orang yang senantiasa pasrah menyerahkan dirinya kepada Tuhan) dan yang terpenting bahwa Ibrahim As bukanlah seorang yang musyrik. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surah Ali Imran ayat 67:  

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.

Hari Raya Idul Adha selain disebut sebagai Hari Raya Haji juga dikenal dengan Hari Raya Qurban. Ibadah Qurban bermula ketika Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Ibrahim As melalui mimpi untuk menyembelih putera kesayangannya Ismail yang diceritakan dalam surah Ash Shaffat ayat 100 – 111 sebagai berikut:

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Ujian yang sangat berat tersebut pun sanggup dilalui oleh Ibrahim As dengan penuh kepasrahan demi kecintaannya kepada Allah Swt. Ibrahim As telah berani berjihad guna melawan kemauan dan egoisme diri, yang sering kali menguasai setiap hati manusia. Di tengah-tengah kepasrahan Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putra idamannya tersebut, Allah Swt pun mengutus Malaikat-Nya turun ke bumi untuk menggantikan Ismail yang akan disembelih dengan domba sembelihan. Kemudian dari cerita dan peristiwa yang dialami Ibrahim As tersebut tradisi qurban terus menerus dilakukan hingga zaman sekarang.

Dalam konteks ini, mimpi Nabi Ibrahim As untuk menyembelih anaknya, Ismail, merupakan sebuah ujian Tuhan, sekaligus perjuangan maha berat seorang Nabi yang diperintah oleh Tuhannya melalui malaikat Jibril untuk mengurbankan anaknya. Peristiwa itu harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang menunjukkan ketakwaan, keikhlasan, dan kepasrahan seorang Ibrahim As pada titah sang pencipta.
Qurban secara simbolik wujudnya adalah berupa hewan sembelihan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi sesungguhnya, yang sampai kepada Allah Swt bukanlah daging dan darahnya, melainkan yang sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan. Allah Swt berfirman dalam surah Al Hajj ayat 37 : 

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dengan demikian, yang harus diqurbankan atau disembelih adalah sifat-sifat kebinatangan sebagai lambang ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Qurban bukan pula untuk “mengambil hati” yang Maha Kuasa, Allah Swt tidak pernah tergantung dengan hamba-Nya, karena itu Allah Swt tidak pernah mengharapkan akan darah dan daging hewan qurban tersebut, tetapi yang dinilai adalah ketaatan, rasa syukur dan keikhlasan untuk berqurban dan membagi harta dengan orang yang memerlukan salah satunya lewat pembagian daging hewan qurban. Senada dengan hal tersebut Ali Syari’ati (1997), mengemukakan bahwa ritual qurban bukan cuma bermakna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Tuhannya, akan tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan.

Dengan berqurban, kita mendekatkan diri kepada mereka yang fakir. Bila Anda memiliki kenikmatan, Anda wajib berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila Anda puasa, Anda akan merasa lapar seperti mereka yang miskin. Ibadah qurban mengajak mereka yang mustadh’afiin untuk merasakan kenyang seperti Anda. Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ritus qurban memiliki tiga makna penting sekaligus.

Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Qurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi. Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah qurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Qurban adalah media ritual, selain zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaaan sosial itu. Ketiga, makna bahwa apa yang diqurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki.
Penutup
Pesan Idul Adha (Qurban) juga ingin menegaskan dua hal penting yang terkandung dalam dimensi hidup manusia (hablun minannas). Pertama, semangat ketauhidan, keesaan Tuhan yang tidak lagi mendiskriminasi ras, suku atau keyakinan manusia satu dengan manusia lainnya. Di dalam nilai ketauhidan itu, terkandung pesan pembebasan manusia dari penindasan manusia lainnya atas nama apa pun. Kedua, Idul Adha juga dapat diletakkan dalam konteks penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap adil, toleran, dan saling mengasihi tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan profetis agama itu sendiri. Dalam kesehariannya, spirit kemanusiaan yang seharusnya menjadi tujuan utama Islam, dalam banyak kasus tereduksi oleh ritualisme ibadah-mahdah. Seakan-akan agama hanya media bagi individu untuk berkomunikasi dengan Tuhannya saja, yang terlepas dari kewajiban sosial-kemanusiaan. Keberagamaan yang terlalu teosentris dan sangat personal tersebut, pada akhirnya terbukti melahirkan berbagai problem sosial dan patologi kemanusiaan di tengah-tengah  kita.

sumber http://kalsel.muhammadiyah.or.id/artikel-menyelami-makna-qurban-detail-300.html

Kisah Nabi Musa dengan Seorang Pezina



 "Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. "
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". 

 Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
 Air matanya berderai tatkala ia Berkata,
"Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. 

Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
 "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut. 
 "Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik.
 "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
 Maka perempuan itupun terpatah bercerita,
 "Saya... telah berzina.

 "Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. 
Perempuan itu meneruskan, 
"Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil.
 Setelah anak itu lahir, langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya. 
Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik,

 "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa.

 Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu.

 Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. 

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" 

Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" 

Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. 

"Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?" 

"Ada!" jawab Jibril dengan tegas.

 " Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. 

"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. 

Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina", jawab Jibril. 

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. 

Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy) 

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. 

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. 

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik




Berwudhu Menurut al-Quran dan as Sunnah Shohih




Tata-Cara Berwudhu 
 
Ilustrasi Pelaksanaan Wudhu
  1. Membaca basmalah pada permulaan wudhu, dengan niat yang ikhlas semata mata karena Allah swt. sesuai  dengan hadis dari (HR an-Nasa’i) 
  2. Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali, hendaknya pada cela-cela jari tangan dibersihkan sebersih mungkin. [HR Muttafaq alaihi]
  3. Menggosok gigi dengan kayu arok atau sejenisnya.   ( H.R. Malik, Ahmad dan an-Nasa’i).
  4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung dari telapak tangan sebelah  kanan serta menyemburkanya kembali, yang masing-masing dilakukan tiga kali. Hal tersebut dilakukan, kecuali ketika berpuasa. [HR Muttafaq alaihi]
  5. Membasuh muka tiga kali dengan mengusap dua sudut mata, menggosok dan melebihkan dalam membasuhnya serta menyela-nyelai janggut. [HR Ahmad, dan lain-lain)]
  6. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku dengan digosok tiga kali sambil menyelai jari-jari tangan dengan melebihkan dalam membasuh keduanya serta memulai dengan tangan sebelah kanan [HR Muttafaq alaihi]
  7. Mengusap ubun-ubun dan bagian atas sorban [mengusap kepala] dengan menjalankan kedua telapak tangan dari ujung muka kepala hingga tengkuk dan dikembalikan lagi pada permulaan kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk [HR Muttafaq alaihi]
  8. Membasuh kedua kaki beserta mata kaki dengan melebihkan dalam membasuh keduanya, memulai dari yang kanan dan menyempurnakan dalam membasuhnya. [HR Muttafaq alaihi]  
  9. Berdoa setelah berwudhu (HR Muslim) :  Ayshadu an laa ilaaha illa Allahu wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu   Artinya : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya”.
 
Support : Creating Website | admin | Mas Template
Copyright © 2011. Panti-Asuhan-Muhammadiyah-Madiun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by admin wabsite PA Ponpes Muhammadiyah Madiun