Diberdayakan oleh Blogger.
ASRAMA UPTODATE
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan
12.52
Allah Pun Tertawa
Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Desember 03, 2014 | 12.52
Allah pun Tertawa
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur
Suatu waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu (miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain.
Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!”
Ia belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang terpenting, dia bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW.
Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!”
Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan.
Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah.
Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian memadamkannya.
Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang.
Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan rumah juga ikut makan bersamanya.
Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.”
Hasilnya, Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa yang mereka berdua lakukan.
Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.
Pertama, betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada tamunya atau tidak? Yang penting memberi!
Kedua, ketika kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun sulitnya kondisi yang sedang ia alami.
Ketiga, orang yang dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi, apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa yang dibutuhkannya kepada orang lain?
Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.
Maka pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab, orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur
Suatu waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu (miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain.
Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!”
Ia belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang terpenting, dia bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW.
Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!”
Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan.
Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah.
Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian memadamkannya.
Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang.
Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan rumah juga ikut makan bersamanya.
Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.”
Hasilnya, Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa yang mereka berdua lakukan.
Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.
Pertama, betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada tamunya atau tidak? Yang penting memberi!
Kedua, ketika kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun sulitnya kondisi yang sedang ia alami.
Ketiga, orang yang dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi, apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa yang dibutuhkannya kepada orang lain?
Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.
Maka pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab, orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka sendiri.
Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
Labels:
CERITA INSPIRATIF,
Kisah Hikmah
12.50
Tidak untuk di Baca! "Arti sebuah pengorbanan"
Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Maret 01, 2014 | 12.50
Banyak dari kita yang tidak menyadari
bahwa pengorbanan dalam hidup adalah sebuah keharusan.
Terkadang sebagian kita beranggapan kesusahan dan kesempitan hidup yang kita alami membuat kita berfikir tidaklah perlu mengorbankan sebagian apa yang kita punya, karena pada dasarnya kesusahan dan kesempitan itu telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kelapangan hidup. Disadari atau tidak dampak dari sebuah pengorbanan sekecil apapun yang kita lakukan mampu membuat yang tidak mungkin dalam hidup kita menjadi mungkin, yang dulunya hanya sebuah angan-angan dapat menjadi kenyataan. Mengapa demikian?
Terkadang sebagian kita beranggapan kesusahan dan kesempitan hidup yang kita alami membuat kita berfikir tidaklah perlu mengorbankan sebagian apa yang kita punya, karena pada dasarnya kesusahan dan kesempitan itu telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kelapangan hidup. Disadari atau tidak dampak dari sebuah pengorbanan sekecil apapun yang kita lakukan mampu membuat yang tidak mungkin dalam hidup kita menjadi mungkin, yang dulunya hanya sebuah angan-angan dapat menjadi kenyataan. Mengapa demikian?
Karena itu merupakan kemuliaan dari sebuah pengorbanan. Perlu kita
ketahui bahwa orang mulia bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan
pengorbanannya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Dengan pengorbanan,
Allah SWT menyayangi kita, manusia menghargai kita, malaikat mendoakan
memohonkan rahmat untuk kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 15:
"Sesungguhnya
orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya
kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak
ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada
jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya)."
Dalam sebuah kisah, yang dikutip dalam buku yang berjudul Bukan Untuk
Dibaca The Inspiring Story karya Deassy M. Destiani. Mari kita simak sejenak
sebagai renungan, Aku dilahirkan di dusun pegunungan yang sangat terpencil
dengan udara yang sangat dingin. Setiap hari orang tuaku membajak tanah kering
kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik tiga
tahun lebih muda dariku. Saat itu aku 11 tahun dan adikku 8 tahun. Suatu ketika
untuk membeli sapu tangan yang gadis-gadis di sekelilingku memakainya, aku
mencuri 10 sen dari laci ayahku. Namun ayahku segera menyadarinya, beliau
membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok dengan tongkat bambu di
tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya. Aku terpaku karena
terlalu takut untuk berbicara. “Baiklah, karena tidak mengaku kalian berdua
layak dipukul!” lanjut ayahku, dan ayah mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi.
Namun tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang
melakukannya!”. Tongkat panjang itu pun menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Sesudahnya ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi
“Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan
kau lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri
tidak tau malu!”. Malam itu aku dan ibu memeluk adikku dengan tubuh yang penuh
luka sambil menangis tetapi ia tidak meneteskan air mata sedikitpun. Tangan
kecilnya menutup mulutku yang terus menangis sambil berkata, “Kak, jangan
menangis lagi sekarang, semuanya sudah terjadi”. Sejak saat itu aku sangat
membenci diriku karena tidak punya cukup keberanian untuk mengakui kesalahanku.
Meskipun telah bertahun-tahun berlalu rasanya kejadian itu terasa baru terjadi
kemarin. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di ibu kota kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima di sebuah
universitas di ibukota provinsi. Malam itu ayah duduk di depan rumah sambil
menghisap tembakau ditemani ibu. Aku mendengarnya bergumam, “Kedua anak kita
memberikan hasil yang begitu baik”. Ibu mengusap air matanya dan menghela napas
sambil berkata, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya
sekaligus?”. Sepontan adikku berlari keluar dan berkata “Ayah aku tidak usah
melanjutkan sekolah, sudah cukup membaca banyak buku.” Tangan ayah yang kokoh
mendarat di pipi adikku dan kemudian berkata “Mengapa kau mempunyai jiwa yang
begitu keparat? Meski harus mengemis aku akan membiayai kalian berdua sampai
selesai!”.
Dan begitulah ia mulai mengetuk setiap pintu rumah tetangga kami
untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku ke muka adikku yang membengkak,
“Seorang anak laki-laki harus sekolah setinggi-tingginya, jika tidak maka akan
tetap terbelenggu dalam kemiskinan, dan aku sudah memutuskan untuk tidak
melanjutkan ke universitas”. Siapa sangka keesokan harinya adikku meninggalkan
rumah dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku “Kak masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu
uang.” Aku memegang kertas itu dan menangis hingga suaraku hilang. Tahun itu,
aku berusia 20 tahun dan adikku 17 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari
seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkuti semen pada
punggungnya di lokasi proyek pembangunan, akhirnya kuliahku hingga tahun ke
tiga di universitas. Malam itu aku sedang belajar di kamar kosku dan tiba-tiba
temanku memberitahu “Ada penduduk dusun yang mencarimu di luar”. Seketika aku
keluar dan kaget melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu dengan baju
lusuh dan penuh pasir, “mengapa kamu tidak bilang pada temanku kalau kamu
adikku?” kataku sambil ku bersihkan sisa pasir dan semen dari bajunya. Sambil
tersenyum adikku menjawab, “Lihat penampilanku. Apa yang akan mereka pikir,
jika tahu aku adalah adikmu? Mereka akan menertawakanmu”. Air mataku kembali
membentuk anak sungai di pipiku, “Apapun keadaanmu, kamu tetap adikku, aku tak
peduli omongan siapapun!”. Adikku mengeluarkan sebuah jepit rambut indah
berbentuk kupu-kupu dari sakunya dan menyelipkannya di rambutku sambil berkata,
“Aku melihat banyak teman-temanmu memakainya, jadi kupikir kamu juga harus
memilikinya”. Segera ku tarik tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku dengan
tangisanku yang tersedu-sedu. Tahun itu, adikku genap 23 tahun dan aku 26
tahun. Aku akan menikah rumahku diperbaiki, kaca jendela yang pecah juga telah
diganti. Aku bilang pada ibu, “Ibu tidak perlu repot-repot membersihkan rumah,
biar aku saja”. Sambil tersenyum ibu menjawab, “Semua itu adikmu yang
melakukannya, apa kamu tidak melihat tangannya terluka kena kaca yang pecah?”. Aku
masuk ke kamar sempit adikku, melihat mukanya yang kurus seratus jarum serasa
menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep ke tangannyan, “Pasti ini sakit?”
tanyaku. “Tidak, tidak sakit kak, kamu tahu kak saat aku bekerja di proyek,
batu-batu sering berjatuhan mengenai kakiku, bahkan itu tidak menghentikanku
bekerja dan...”, di tengah kalimat itu ia berhenti karena aku membalikkan
tubuhku karena tak mampu menahan air mataku. Saat aku sudah menikah,
perekonomianku membaik karena suamiku menjadi direktur di perusahaannya. Dan
aku mengajak kedua orang tuaku dan adikku untuk tinggal bersama, namun mereka
menolak. “Kak jagalah mertuamu saja, aku akan menjaga ibu dan ayah di sini”,
penolakan adikku. Suamiku menginginkan adikku menjadi manajer di departemen
pemeliharaan di perusahaan yang dia pegang, namun lagi-lagi dia menolak dan
memilih menjadi pekerja reparasi. Suatu hari adikku masuk rumah sakit karena
jatuh dari ketinggian akibat tersengat listrik. Aku dan suamiku menjenguknya.
Melihat gips putih di kakinya aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi
manajer? Menajadi manajer tidak akan pernah melakukan hal yang membahayakan
seperti ini! Lihat kamu sekarang luka yang begitu serius, mengapa tidak mau
mendengar kami sebelumnya?”. Adikku
mengeluarkan pembelaannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur
dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, gosip seperti apa
yang akan tersiar di kantornya?”. Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dengan
terbata-bata aku berkata, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”.
Adikku menggenggam tanganku, “Mengapa membicarakan masa lalu?”. Waktu terus
berlalu, ketika adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis dari dusun.
Dalam acara pernikahan, pembawa acara bertanya padanya, “Siapa yang paling kamu
hormati dan kasihi?”. Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku” ia
melanjutkan cerita yang tidak bisa aku ingat sama sekali. “Ketika aku pergi ke
sekolah SD yang terletak di dusun lain. Setiap hari aku dan kakakku berjalan
selama dua jam untuk sampai ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu dari
sarung tanganku dan kakakku memberikan satu dari sarung tangannya padaku dan ia
memakai hanya satu dengan jarak yang jauh itu. Setibanya di rumah tangan kakaku
sangat gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai-sampai tidak dapat
memegang sendoknya untuk makan. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih
hidup aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya”. Tepuk tangan
membanjiri ruangan itu. Aku tak dapat berkata apa-apa air mataku sangat deras
mengalir dan dadaku sesak.
Begitulah Allah menampakkan kemuliaan pengorbanan hambanya yang ikhlas,
pertolongan itu datang dari arah yang tidak disangka sebelumnya yaitu melalui
adiknya. Keluar dari cerita di atas, kita sebagai umat muslim, seperti apapun
kondisi kita, berapapun usia kita saat ini, pertanyaan yang mendasar untuk kita
semua seberapa banyak pengorbanan yang telah kita lakukan untuk meringankan
beban orang lain dengan cara saling tolong menolong, meskipun melalui hal yang
sangat kecil? Bukankan masih jelas dalam ingatan kita QS. Al-Maidah ayat 2
Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong,
Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat
dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
amat berat siksa-Nya.
Jika kita masih bisa
menjawab dengan satu pengorbanan yang pernah kita lakukan, mungkin kita tidak
terlalu malu dihadapan Allah. Jika kita hanya berharap kebaikan dan pengorbanan
orang lain terhadap kita, bagaimana kita hendak mempertanggungjawabkannya kelak
di hadapan Allah. Mungkin sebagian dari kita bergumam dalam hati, saya kan
orang miskin, bisa makan setiap hari saja sudah untung, atau masih untung gaji
bulanan saya bisa sampai satu bulan, bagaimana mau berkorban atau menolong
orang lain? Sudahkah kita lupa nikmat yang Allah berikan kepada kita, berupa
nikmat sehat, akal, panca indra yang lengkap dan masih banyak lagi. Mengapa itu
tidak kita gunakan untuk sebuah pengorbanan yang berarti bagi orang lain? Hanya
sekedar senyum pada saudara kita, barangkali dapat meringankan hatinya yang
sedang sedih, atau hanya sekedar menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang
lain.
Jangan menyimpan banyak alasan untuk menghindari sebuah pengorbanan.
Karena sesungguhnya hal itu akan menuntun kita pada pengingkaran nikmat yang
telah Allah berikan kepada kita. Jika kita menginginkan nikmat Allah selalu
terlimpahkan kepada kita maka jangan sekali-kali mengingkarinya dengan tidak
mensyukurinya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita sebanyak 30 kali dalam
QS. Ar-Rahman untuk tidak mendustakan nikmatnya.
Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mari
kita bermuhasabah diri._pita_κύτες
Labels:
CERITA INSPIRATIF,
Kisah Hikmah
09.15
“Membangun Pemuda Muhammadiyah yang mandiri,
tangguh, Kritis, dan idealis” tema yang diambil Pimpinan Daerah Pemuda
Muhammadiyah (PDPM) Kota Madiun dalam acara Rapat Pimpinan (Rapim) PDPM Kota
Madiun bertempat di gedung SD Kreatif Muhtadi,12/01.
Acara yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah-Aisyiyah Kota Madiun, PWPM Jatim, organisasi Otonom, dan seluruh kader PDPM Kota Madiun tersebut berlangsung khidmat dan semarak, hal ini terbukti dengan keputusan sidang yang dihasilkan diantaranya pendirian cabang di tingkat kecamatan dan cabang istimewa di AUM, konsolidasi internal, rencana pendirian masjid, pengelolaan radio Gess FM STISIP MUH untuk dakwah.
Dakwah PDPM Kota Madiun Siap On Air
Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Januari 20, 2014 | 09.15
| Jajarah Pengurus Harian (PH) PDPM Kota Madiun |
Acara yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah-Aisyiyah Kota Madiun, PWPM Jatim, organisasi Otonom, dan seluruh kader PDPM Kota Madiun tersebut berlangsung khidmat dan semarak, hal ini terbukti dengan keputusan sidang yang dihasilkan diantaranya pendirian cabang di tingkat kecamatan dan cabang istimewa di AUM, konsolidasi internal, rencana pendirian masjid, pengelolaan radio Gess FM STISIP MUH untuk dakwah.
| LPJ Pimpinan |
Hidayatul Rizkon, PW PM Jatim, dalam sambutan
pembukannya menyampaikan saatnya Pemuda Muhammadiyah berperan dalam
menangani masalah kebangsaan dan menjadi
pemuda tangguh dan mandiri. “Dakwah di pemerintahan sangat strategis makanya
mari kita ambil,” tegas aktivis asal Ngawi ini.
Terpisah, Achmad Darsono, PD Muhammadiyah Kota
Madiun, menyampaikan pemuda itu harus tegas. “Dalam menyanyikan lagu Sang Surya
sikapnya harus tegap tidak tangannya didepan,” sarannya._arif sugianto
Labels:
Berita,
CERITA INSPIRATIF,
News artikel
20.58
MUSIM HUJAN YANG DINANTI BANYAK ORANG
Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Oktober 25, 2012 | 20.58
HUJAN
![]() |
| ilustrasi hujan deras |
Bagi Kang Karmin, hujan merupakan karunia Tuhan yang
tidak terhingga. Dalam doanya ia selalu berharap musim hujan akan lebih panjang
dari kemarau. Wajarlah kalau Kang Karmin menginginkan begitu, sebab ia hanyalah
petani tadah hujan. Sawahnya hanya sepetak di lereng gunung, di areal hutan
jati milik Perhutani yang telah gundul. Pantasnya mungkin bukan sawah tapi
tegalan. Ketika turun lapangan, kami mendapati hampir semua warga desanya mengatakan
bahwa problem utama saat kemarau adalah air. Membuat sumur terlalu mahal bagi
mereka karena kedalamannya bisa puluhan meter. Itupun belum tentu sumber airnya
besar. Mengandalkan kali yang melintasi desa mereka juga tidak bisa, sebab
semuanya pada kering. "Satu-satunya yang bisa diharapkan ya hujan
mas" kata Kang Karmin saat itu.
Sekaranglah musim yang dinantikan oleh Kang Karmin dan
para tetangganya. Dalam hatinya terbetik kesempatan di mana ia bisa menanami
tegalnya dan memberi minum sapi-sapi piarannya dengan leluasa. Tetapi bapak
tiga anak ini mungkin tidak pernah menyangka kalau hujan yang turun saat ini demikian
padat dan disertai angin kencang.
Menurut ramalan cuaca, itu adalah siklus dua lima
tahunan, akibat dari badai yang terjadi di Australia. Kang Karmin lagi-lagi
juga tidak bisa bercocok tanam. Rembesan air dari atas gunung demikian deras tidak
bisa dibendung, karena hutan pelindung yang berfungsi sebagai penyerap air tidak
ada lagi. Yang terjadi adalah banjir bandang disertai tanah longsor. Kang
karmin dan para tetangganya sekarang sibuk menyelamatkan keluarga, mengungsi ke
tempat yang lebih aman. Ia hanya menunggu bencana ini kan cepat berlalu.
"Kalau alam sudah bicara, apalah kuasa kita?" katanya setengah putus
asa.
Terkadang ia ingin menghujat nasib. Mengapa ia yang telah
miskin kok justru harus menanggung bencana begini? Tetapi ia teringat Kyai
Shobirin di musholla pernah mengajarinya tentang prasangka baik pada Tuhan.
"Min" kata pak Kyai, "hidup ini akan
berjalan seperti apa yang kita gambarkan dalam pikirkan kita"
"Nyuwun sewu, Kyai. Apa maksudnya?" sela
Kang Karmin
"Kalo hidup ini kita bayangkan enak, maka insyaallah
apa yang kita alami akan enak".
"Pangapunten, Kyai. Saya belum
mengerti".
"Begini, Min" jelas pak Kyai, "hidup ini
kan ada yang mengatur yaitu Gusti Allah. Dan Dia mengatur hidup ini seperti
yang dipikirkan oleh hamba-Nya. Kalau si hamba berpikiran positif terhadap
Tuhan dan hidup ini, ya.. insyaallah hidupnya akan berjalan positif,
begitu juga sebaliknya.."
"Jadi… kalau
kita berpikiran Gusti Allah itu baik, maka kesengsaraan yang kita alami itu
akan terasakan sebagai wujud kebaikan-Nya, begitu Kyai?"
"Minimal, rasa sakit akibat kesengsaraan tadi tidak
menjadikan kita putus asa"
"Sekarang saya paham, Kyai" kepala Kang Karmin
sambil mantuk-mantuk
"Hidup ini tergantung bagaimana kita menyikapinya,
Min" lanjut Kyai desa ini, "dan sikap itu terbentuk dari kualitas
cara pandang kita terhadap Tuhan: positifkah atau negatif. Dan begitulah
jadinya… karena Tuhan sendiri pernah bicara: Aku seperti apa yang disangkakan
hamba-Ku kepada-Ku…"
Tiba-tiba Kang Karmin tersadarkan dari lamunannya oleh
suara gaduh dua anaknya yang berebut sebungkus nasi hingga tumpah berceceran.
Bu Karmin memarahi keduanya sambil mengingatkan pentingnya sebungkus nasi di
pengungsian. Kang Karmin bangkit dari duduk karena tertarik pada photo di koran
pembungkus nasi. Dipungut dan dengan kemampuan yang terbatas ia membacanya.
Dari situ tahulah dia bahwa kejadian yang dialami sekarang ini juga menimpa
penduduk yang lain, di desa yang lain, di daerah yang lain, di belahan
Indonesia yang lain. Semuanya tersapu banjir bandang atau tertimbun tanah
longsor.
Tragisnya, ternyata peristiwa seperti ini sudah menjadi
rutinitas tahunan. Langganan di musim hujan. Dan semuanya tidak bisa (atau
pantasnya: tidak mau) berbuat apa-apa. Pemerintah sibuk sendiri dengan kekuasaan
dan birokrasinya yang mbulet, hingga tidak sempat (menyempatkan diri) untuk
merencanakan penanggulangan banjir sebelum musim hujan tiba. Mereka cenderung
menyalahkan terjadinya deforestasi (penggundulan hutan) tanpa pernah berhasil
menangkap pelakunya, apalagi melakukan reboisasi. Wakil rakyat sibuk sendiri
dengan kepentingan politik-ekonominya, hingga tidak lagi sensitif dengan
kesejahteraan dan keselamatan pemilihnya. Tokoh dan gerakan keagamaan hanya
mampu menunjukkan agama sebagai jalan kesabaran yang pasif tanpa pernah menjadikannya
sebagai sumber aksi kongkret pemberdayaan masyarakat dalam mengantisipasi
bencana langganan ini. Semuanya mandul. Karena ternyata dalam rutinitas musim
hujan ini semuanya telah terbenam dalam fatalisme yang diciptakannya
sendiri.
Kang Karmin jadinya merasa bersalah telah mengharap hujan
turun lebih lama. "Kalaulah tahu begini banyak orang sengsara, saya
mungkin tidak akan begitu getol meminta hujan!" katanya lugu. Tetapi, pantaskah
Kang Karmin merasa bersalah? Tentu ia tidak pantas merasa begitu karena ia
bukanlah termasuk orang yang menggunduli hutan di desanya, walaupun polisi
hutan sering menuduh warga desa sebagai pelakunya. Begitulah kearifan orang
desa yang teramat jauh untuk dimiliki oleh kita yang telah berkubang dalam
materialisme dan hedonisme. Dalam kesengsaraannya, Kang Karmin masih mampu
menunjukkan empatinya pada orang lain.[]
Labels:
CERITA INSPIRATIF
10.37
Kisah Nabi Musa dengan Seorang Pezina
Pada
suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung.
Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang
mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka
atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan
roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah
meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi
Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka
terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk".
Perempuan cantik itu
lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
Air matanya berderai
tatkala ia Berkata,
"Wahai
Nabi Allah. Tolonglah saya.
Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa
keji saya."
"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa
a.s. terkejut.
"Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik.
"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
Maka perempuan itupun
terpatah bercerita,
"Saya... telah berzina.
"Kepala Nabi Musa
terangkat,hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan,
"Dari perzinaan itu
saya pun...lantas hamil.
Setelah anak itu lahir, langsung saya... cekik lehernya
sampai... tewas," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.
Nabi Musa
berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik,
"Perempuan bejad,
enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena
perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena
jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur
luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam
rumah Nabi Musa.
Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi
hendak mengadu.
Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila
seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal
menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya.
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa.
Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang
wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih
besar daripadanya?"
Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih
besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?"
Maka Nabi Musa dengan
penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang
lebih besar daripada perempuan yang nista itu?"
"Ada!" jawab
Jibril dengan tegas.
" Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.
"Orang
yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal.
Orang itu dosanya
lebih besar dari pada seribu kali berzina", jawab Jibril.
Mendengar
penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali
kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada
Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan
sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti
berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya.
Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah
menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.
Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti
masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan
ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
(Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy)
Dalam hadis Nabi
SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding
dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh
dengan ibunya di dalam Ka'bah.
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang
yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka
ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh
tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat
perbandingannya adalah seribu tahun di dunia.
Demikianlah kisah Nabi Musa dan
wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita
dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa
atuubuilaiik
Labels:
CERITA INSPIRATIF,
Kisah Hikmah



