ALAMAT : KANTOR PUSAT & ASRAMA PUTRI 1 JL. MERBABU NO 26 KODE POS 63121 TLP. 0351-453920, ASRAMA PUTRI 2 JL. JOIRANAN NO 25, ASRAMA PUTRA JL. TRENGULI NO 18B, rintisan mbs hamka jl poncowati demangan kota madiun
Diberdayakan oleh Blogger.
ASRAMA UPTODATE
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA INSPIRATIF. Tampilkan semua postingan

Allah Pun Tertawa

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Desember 03, 2014 | 12.52

Allah pun Tertawa

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur
Suatu waktu, Rasulullah SAW kedatangan tamu orang yang sangat tidak mampu (miskin), Rasulullah mengajak tamu tersebut ke rumah salah seorang istri beliau agar bisa dijamu selayaknya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih dan tidak bisa menghidangkan makanan yang lain.

Rasulullah SAW kemudian membawa tamunya kepada para sahabatnya, seraya menawarkan, “Siapa saja yang memuliakan tamuku ini, akan mendapat surga.” Salah seorang sahabat yang bernama Abu Thalhah spontan menjawab, “Saya Rasulullah!

Ia belum sempat berpikir, apakah di rumah ada makanan atau tidak? Yang terpenting, dia  bisa menolong orang lain dan mendapatkan surga sebagaimana ditawarkan Rasulullah SAW.

Selanjutnya, tamu Rasulullah itu pun diajak ke rumahnya. Sampai di rumah, ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini!” Istrinya menjawab, “Kita tidak punya persediaan makanan, kecuali untuk si kecil anak kita!

Tanpa berpikir panjang, Abu Thalhah langsung mengutarakan idenya, “Siapkan makanan itu, lalu pura-puralah memperbaiki lampu penerang yang ada di rumah, dan tidurkanlah anak kita!” Ketika hari sudah gelap, tamu Rasulullah itu diajak ke tempat makan.

Istri Abu Thalhah sibuk mempersiapkan hidangan seakan-akan untuk seluruh anggota keluarganya ditambah tamu Rasulullah.
Setelah makanan dihidangkan, istri sahabat itu mendekati lampu penerang rumahnya, berpura-pura memperbaikinya, dan kemudian memadamkannya.
Tujuannya tidak lain, agar sang tamu merasa nyaman menikmati hidangan itu sendirian. Sebab, porsi makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang.

Tamu itu menikmati hidangan yang ada dengan lahap, tanpa merasa ada yang janggal dalam jamuan makan malam itu. Dia mengira tuan rumah juga ikut makan bersamanya.
Keesokan harinya, Abu Thalhah menghadap Rasulullah SAW, ia disambut dengan senyuman, lalu beliau bersabda, “Allah tertawa (rida) dengan yang kalian lakukan berdua tadi malam.

Hasilnya, Rasulullah rida dengan simbol berupa senyuman ketika bertemu Abu Thalhah, dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah pun rida dengan apa yang mereka berdua lakukan.
Setidaknya ada tiga hikmah yang bisa kita petik dari kisah yang menjadi sebab turunnya Surah al-Hasyr ayat 9 ini.

Pertama, betapa Rasulullah SAW dan Abu Thalhah sahabatnya memiliki jiwa penolong yang sangat mengagumkan sehingga dengan jiwa tersebut, keduanya tidak sempat berpikir apakah di rumahnya ada makanan yang bisa disuguhkan pada tamunya atau tidak? Yang penting memberi!

Kedua, ketika kedermawanan sudah mendarah daging dalam diri seseorang, berbagai cara bisa ia lakukan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain, betapapun sulitnya kondisi yang sedang ia alami.

Ketiga, orang yang dermawan tidak pernah memikirkan tentang dirinya saat hendak memberi, apa yang akan ia makan? Bagaimana nasibnya nanti ketika ia memberi apa yang dibutuhkannya kepada orang lain?
Bahkan, orang yang dermawan mungkin saja menomorduakan kebutuhan keluarganya ketika ada orang yang lebih membutuhkan.

Maka pantas jika kemudian orang yang memiliki jiwa seperti ini akan mendapat rida Allah SWT. Dan di akhirat akan dimasukkan ke surga-Nya. Sebab, orang yang seperti ini lebih mengutamakan orang lain, atas diri mereka sendiri.

Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Tidak untuk di Baca! "Arti sebuah pengorbanan"

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Maret 01, 2014 | 12.50

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa pengorbanan dalam hidup adalah sebuah keharusan.
Terkadang sebagian kita beranggapan kesusahan dan kesempitan hidup yang kita alami membuat kita berfikir tidaklah perlu mengorbankan sebagian apa yang kita punya, karena pada dasarnya kesusahan dan kesempitan itu telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kelapangan hidup.  Disadari atau tidak dampak dari sebuah pengorbanan sekecil apapun yang kita lakukan mampu membuat yang tidak mungkin dalam hidup kita menjadi mungkin, yang dulunya hanya sebuah angan-angan dapat menjadi kenyataan. Mengapa demikian? 

Karena itu merupakan kemuliaan dari sebuah pengorbanan. Perlu kita ketahui bahwa orang mulia bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan pengorbanannya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Dengan pengorbanan, Allah SWT menyayangi kita, manusia menghargai kita, malaikat mendoakan memohonkan rahmat untuk kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 15: 

 "Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya)."

Dalam sebuah kisah, yang dikutip dalam buku yang berjudul Bukan Untuk Dibaca The Inspiring Story karya Deassy M. Destiani. Mari kita simak sejenak sebagai renungan, Aku dilahirkan di dusun pegunungan yang sangat terpencil dengan udara yang sangat dingin. Setiap hari orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik tiga tahun lebih muda dariku. Saat itu aku 11 tahun dan adikku 8 tahun. Suatu ketika untuk membeli sapu tangan yang gadis-gadis di sekelilingku memakainya, aku mencuri 10 sen dari laci ayahku. Namun ayahku segera menyadarinya, beliau membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok dengan tongkat bambu di tangannya. 

“Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya. Aku terpaku karena terlalu takut untuk berbicara. “Baiklah, karena tidak mengaku kalian berdua layak dipukul!” lanjut ayahku, dan ayah mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Namun tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”. Tongkat panjang itu pun menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Sesudahnya ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi “Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kau lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”. Malam itu aku dan ibu memeluk adikku dengan tubuh yang penuh luka sambil menangis tetapi ia tidak meneteskan air mata sedikitpun. Tangan kecilnya menutup mulutku yang terus menangis sambil berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang, semuanya sudah terjadi”. Sejak saat itu aku sangat membenci diriku karena tidak punya cukup keberanian untuk mengakui kesalahanku. Meskipun telah bertahun-tahun berlalu rasanya kejadian itu terasa baru terjadi kemarin. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di ibu kota kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima di sebuah universitas di ibukota provinsi. Malam itu ayah duduk di depan rumah sambil menghisap tembakau ditemani ibu. Aku mendengarnya bergumam, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik”. Ibu mengusap air matanya dan menghela napas sambil berkata, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Sepontan adikku berlari keluar dan berkata “Ayah aku tidak usah melanjutkan sekolah, sudah cukup membaca banyak buku.” Tangan ayah yang kokoh mendarat di pipi adikku dan kemudian berkata “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat? Meski harus mengemis aku akan membiayai kalian berdua sampai selesai!”. 

Dan begitulah ia mulai mengetuk setiap pintu rumah tetangga kami untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku ke muka adikku yang membengkak, “Seorang anak laki-laki harus sekolah setinggi-tingginya, jika tidak maka akan tetap terbelenggu dalam kemiskinan, dan aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke universitas”. Siapa sangka keesokan harinya adikku meninggalkan rumah dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku “Kak masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas itu dan menangis hingga suaraku hilang. Tahun itu, aku berusia 20 tahun dan adikku 17 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkuti semen pada punggungnya di lokasi proyek pembangunan, akhirnya kuliahku hingga tahun ke tiga di universitas. Malam itu aku sedang belajar di kamar kosku dan tiba-tiba temanku memberitahu “Ada penduduk dusun yang mencarimu di luar”. Seketika aku keluar dan kaget melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu dengan baju lusuh dan penuh pasir, “mengapa kamu tidak bilang pada temanku kalau kamu adikku?” kataku sambil ku bersihkan sisa pasir dan semen dari bajunya. Sambil tersenyum adikku menjawab, “Lihat penampilanku. Apa yang akan mereka pikir, jika tahu aku adalah adikmu? Mereka akan menertawakanmu”. Air mataku kembali membentuk anak sungai di pipiku, “Apapun keadaanmu, kamu tetap adikku, aku tak peduli omongan siapapun!”. Adikku mengeluarkan sebuah jepit rambut indah berbentuk kupu-kupu dari sakunya dan menyelipkannya di rambutku sambil berkata, “Aku melihat banyak teman-temanmu memakainya, jadi kupikir kamu juga harus memilikinya”. Segera ku tarik tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku dengan tangisanku yang tersedu-sedu. Tahun itu, adikku genap 23 tahun dan aku 26 tahun. Aku akan menikah rumahku diperbaiki, kaca jendela yang pecah juga telah diganti. Aku bilang pada ibu, “Ibu tidak perlu repot-repot membersihkan rumah, biar aku saja”. Sambil tersenyum ibu menjawab, “Semua itu adikmu yang melakukannya, apa kamu tidak melihat tangannya terluka kena kaca yang pecah?”. Aku masuk ke kamar sempit adikku, melihat mukanya yang kurus seratus jarum serasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep ke tangannyan, “Pasti ini sakit?” tanyaku. “Tidak, tidak sakit kak, kamu tahu kak saat aku bekerja di proyek, batu-batu sering berjatuhan mengenai kakiku, bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan...”, di tengah kalimat itu ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku karena tak mampu menahan air mataku. Saat aku sudah menikah, perekonomianku membaik karena suamiku menjadi direktur di perusahaannya. Dan aku mengajak kedua orang tuaku dan adikku untuk tinggal bersama, namun mereka menolak. “Kak jagalah mertuamu saja, aku akan menjaga ibu dan ayah di sini”, penolakan adikku. Suamiku menginginkan adikku menjadi manajer di departemen pemeliharaan di perusahaan yang dia pegang, namun lagi-lagi dia menolak dan memilih menjadi pekerja reparasi. Suatu hari adikku masuk rumah sakit karena jatuh dari ketinggian akibat tersengat listrik. Aku dan suamiku menjenguknya. Melihat gips putih di kakinya aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Menajadi manajer tidak akan pernah melakukan hal yang membahayakan seperti ini! Lihat kamu sekarang luka yang begitu serius, mengapa tidak mau mendengar kami sebelumnya?”.  Adikku mengeluarkan pembelaannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, gosip seperti apa yang akan tersiar di kantornya?”. Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dengan terbata-bata aku berkata, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”. Adikku menggenggam tanganku, “Mengapa membicarakan masa lalu?”. Waktu terus berlalu, ketika adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis dari dusun. Dalam acara pernikahan, pembawa acara bertanya padanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”. Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku” ia melanjutkan cerita yang tidak bisa aku ingat sama sekali. “Ketika aku pergi ke sekolah SD yang terletak di dusun lain. Setiap hari aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk sampai ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku dan kakakku memberikan satu dari sarung tangannya padaku dan ia memakai hanya satu dengan jarak yang jauh itu. Setibanya di rumah tangan kakaku sangat gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai-sampai tidak dapat memegang sendoknya untuk makan. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya”. Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Aku tak dapat berkata apa-apa air mataku sangat deras mengalir dan dadaku sesak.

Begitulah Allah menampakkan kemuliaan pengorbanan hambanya yang ikhlas, pertolongan itu datang dari arah yang tidak disangka sebelumnya yaitu melalui adiknya. Keluar dari cerita di atas, kita sebagai umat muslim, seperti apapun kondisi kita, berapapun usia kita saat ini, pertanyaan yang mendasar untuk kita semua seberapa banyak pengorbanan yang telah kita lakukan untuk meringankan beban orang lain dengan cara saling tolong menolong, meskipun melalui hal yang sangat kecil? Bukankan masih jelas dalam ingatan kita QS. Al-Maidah ayat 2 Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong,
                                                                                                                               
 Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
 
Jika kita masih bisa menjawab dengan satu pengorbanan yang pernah kita lakukan, mungkin kita tidak terlalu malu dihadapan Allah. Jika kita hanya berharap kebaikan dan pengorbanan orang lain terhadap kita, bagaimana kita hendak mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah. Mungkin sebagian dari kita bergumam dalam hati, saya kan orang miskin, bisa makan setiap hari saja sudah untung, atau masih untung gaji bulanan saya bisa sampai satu bulan, bagaimana mau berkorban atau menolong orang lain? Sudahkah kita lupa nikmat yang Allah berikan kepada kita, berupa nikmat sehat, akal, panca indra yang lengkap dan masih banyak lagi. Mengapa itu tidak kita gunakan untuk sebuah pengorbanan yang berarti bagi orang lain? Hanya sekedar senyum pada saudara kita, barangkali dapat meringankan hatinya yang sedang sedih, atau hanya sekedar menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang lain. 

Jangan menyimpan banyak alasan untuk menghindari sebuah pengorbanan. Karena sesungguhnya hal itu akan menuntun kita pada pengingkaran nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita menginginkan nikmat Allah selalu terlimpahkan kepada kita maka jangan sekali-kali mengingkarinya dengan tidak mensyukurinya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita sebanyak 30 kali dalam QS. Ar-Rahman untuk tidak mendustakan nikmatnya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mari kita bermuhasabah diri._pita_κύτες

Dakwah PDPM Kota Madiun Siap On Air

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Januari 20, 2014 | 09.15

Jajarah Pengurus Harian (PH) PDPM Kota Madiun
Membangun Pemuda Muhammadiyah yang mandiri, tangguh, Kritis, dan idealis” tema yang diambil Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Madiun dalam acara Rapat Pimpinan (Rapim) PDPM Kota Madiun bertempat di gedung SD Kreatif Muhtadi,12/01. 


Acara yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah-Aisyiyah Kota Madiun, PWPM Jatim, organisasi Otonom, dan seluruh kader PDPM Kota Madiun tersebut berlangsung khidmat dan semarak, hal ini terbukti dengan keputusan sidang yang dihasilkan diantaranya pendirian cabang di tingkat kecamatan dan cabang istimewa di AUM, konsolidasi internal, rencana pendirian masjid, pengelolaan radio Gess FM STISIP MUH untuk dakwah.
LPJ Pimpinan

Hidayatul Rizkon, PW PM Jatim, dalam sambutan pembukannya menyampaikan saatnya Pemuda Muhammadiyah berperan dalam menangani  masalah kebangsaan dan menjadi pemuda tangguh dan mandiri. “Dakwah di pemerintahan sangat strategis makanya mari kita ambil,” tegas aktivis asal Ngawi ini.

Terpisah, Achmad Darsono, PD Muhammadiyah Kota Madiun, menyampaikan pemuda itu harus tegas. “Dalam menyanyikan lagu Sang Surya sikapnya harus tegap tidak tangannya didepan,” sarannya._arif sugianto

MUSIM HUJAN YANG DINANTI BANYAK ORANG

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Oktober 25, 2012 | 20.58


HUJAN


ilustrasi hujan deras
            Bagi Kang Karmin, hujan merupakan karunia Tuhan yang tidak terhingga. Dalam doanya ia selalu berharap musim hujan akan lebih panjang dari kemarau. Wajarlah kalau Kang Karmin menginginkan begitu, sebab ia hanyalah petani tadah hujan. Sawahnya hanya sepetak di lereng gunung, di areal hutan jati milik Perhutani yang telah gundul. Pantasnya mungkin bukan sawah tapi tegalan. Ketika turun lapangan, kami mendapati hampir semua warga desanya mengatakan bahwa problem utama saat kemarau adalah air. Membuat sumur terlalu mahal bagi mereka karena kedalamannya bisa puluhan meter. Itupun belum tentu sumber airnya besar. Mengandalkan kali yang melintasi desa mereka juga tidak bisa, sebab semuanya pada kering. "Satu-satunya yang bisa diharapkan ya hujan mas" kata Kang Karmin saat itu.

            Sekaranglah musim yang dinantikan oleh Kang Karmin dan para tetangganya. Dalam hatinya terbetik kesempatan di mana ia bisa menanami tegalnya dan memberi minum sapi-sapi piarannya dengan leluasa. Tetapi bapak tiga anak ini mungkin tidak pernah menyangka kalau hujan yang turun saat ini demikian padat dan disertai angin kencang. 

            Menurut ramalan cuaca, itu adalah siklus dua lima tahunan, akibat dari badai yang terjadi di Australia. Kang Karmin lagi-lagi juga tidak bisa bercocok tanam. Rembesan air dari atas gunung demikian deras tidak bisa dibendung, karena hutan pelindung yang berfungsi sebagai penyerap air tidak ada lagi. Yang terjadi adalah banjir bandang disertai tanah longsor. Kang karmin dan para tetangganya sekarang sibuk menyelamatkan keluarga, mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ia hanya menunggu bencana ini kan cepat berlalu. "Kalau alam sudah bicara, apalah kuasa kita?" katanya setengah putus asa. 

            Terkadang ia ingin menghujat nasib. Mengapa ia yang telah miskin kok justru harus menanggung bencana begini? Tetapi ia teringat Kyai Shobirin di musholla pernah mengajarinya tentang prasangka baik pada Tuhan.

            "Min" kata pak Kyai, "hidup ini akan berjalan seperti apa yang kita gambarkan dalam pikirkan kita"
            "Nyuwun sewu, Kyai. Apa maksudnya?" sela Kang Karmin
            "Kalo hidup ini kita bayangkan enak, maka insyaallah apa yang kita alami akan enak".
            "Pangapunten, Kyai. Saya belum mengerti".

            "Begini, Min" jelas pak Kyai, "hidup ini kan ada yang mengatur yaitu Gusti Allah. Dan Dia mengatur hidup ini seperti yang dipikirkan oleh hamba-Nya. Kalau si hamba berpikiran positif terhadap Tuhan dan hidup ini, ya.. insyaallah hidupnya akan berjalan positif, begitu juga sebaliknya.."

             "Jadi… kalau kita berpikiran Gusti Allah itu baik, maka kesengsaraan yang kita alami itu akan terasakan sebagai wujud kebaikan-Nya, begitu Kyai?"

            "Minimal, rasa sakit akibat kesengsaraan tadi tidak menjadikan kita putus asa"
            "Sekarang saya paham, Kyai" kepala Kang Karmin sambil mantuk-mantuk

            "Hidup ini tergantung bagaimana kita menyikapinya, Min" lanjut Kyai desa ini, "dan sikap itu terbentuk dari kualitas cara pandang kita terhadap Tuhan: positifkah atau negatif. Dan begitulah jadinya… karena Tuhan sendiri pernah bicara: Aku seperti apa yang disangkakan hamba-Ku kepada-Ku…"

            Tiba-tiba Kang Karmin tersadarkan dari lamunannya oleh suara gaduh dua anaknya yang berebut sebungkus nasi hingga tumpah berceceran. Bu Karmin memarahi keduanya sambil mengingatkan pentingnya sebungkus nasi di pengungsian. Kang Karmin bangkit dari duduk karena tertarik pada photo di koran pembungkus nasi. Dipungut dan dengan kemampuan yang terbatas ia membacanya. Dari situ tahulah dia bahwa kejadian yang dialami sekarang ini juga menimpa penduduk yang lain, di desa yang lain, di daerah yang lain, di belahan Indonesia yang lain. Semuanya tersapu banjir bandang atau tertimbun tanah longsor. 

            Tragisnya, ternyata peristiwa seperti ini sudah menjadi rutinitas tahunan. Langganan di musim hujan. Dan semuanya tidak bisa (atau pantasnya: tidak mau) berbuat apa-apa. Pemerintah sibuk sendiri dengan kekuasaan dan birokrasinya yang mbulet, hingga tidak sempat (menyempatkan diri) untuk merencanakan penanggulangan banjir sebelum musim hujan tiba. Mereka cenderung menyalahkan terjadinya deforestasi (penggundulan hutan) tanpa pernah berhasil menangkap pelakunya, apalagi melakukan reboisasi. Wakil rakyat sibuk sendiri dengan kepentingan politik-ekonominya, hingga tidak lagi sensitif dengan kesejahteraan dan keselamatan pemilihnya. Tokoh dan gerakan keagamaan hanya mampu menunjukkan agama sebagai jalan kesabaran yang pasif tanpa pernah menjadikannya sebagai sumber aksi kongkret pemberdayaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana langganan ini. Semuanya mandul. Karena ternyata dalam rutinitas musim hujan ini semuanya telah terbenam dalam fatalisme yang diciptakannya sendiri.   

            Kang Karmin jadinya merasa bersalah telah mengharap hujan turun lebih lama. "Kalaulah tahu begini banyak orang sengsara, saya mungkin tidak akan begitu getol meminta hujan!" katanya lugu. Tetapi, pantaskah Kang Karmin merasa bersalah? Tentu ia tidak pantas merasa begitu karena ia bukanlah termasuk orang yang menggunduli hutan di desanya, walaupun polisi hutan sering menuduh warga desa sebagai pelakunya. Begitulah kearifan orang desa yang teramat jauh untuk dimiliki oleh kita yang telah berkubang dalam materialisme dan hedonisme. Dalam kesengsaraannya, Kang Karmin masih mampu menunjukkan empatinya pada orang lain.[]         
                      
              

Kisah Nabi Musa dengan Seorang Pezina



 "Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. "
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa hias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan- pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". 

 Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
 Air matanya berderai tatkala ia Berkata,
"Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. 

Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya."
 "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa a.s. terkejut. 
 "Saya takut mengatakannya."jawab wanita cantik.
 "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.
 Maka perempuan itupun terpatah bercerita,
 "Saya... telah berzina.

 "Kepala Nabi Musa terangkat,hatinya tersentak. 
Perempuan itu meneruskan, 
"Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil.
 Setelah anak itu lahir, langsung saya... cekik lehernya sampai... tewas," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya. 
Nabi Musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia mengherdik,

 "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa.

 Ratap tangisnya amat memilukan.Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu.

 Bahkan ia tak tahu mau dibawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. 

Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" 

Nabi Musa terperanjat. "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" 

Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. 

"Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada perempuan yang nista itu?" 

"Ada!" jawab Jibril dengan tegas.

 " Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. 

"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. 

Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina", jawab Jibril. 

Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyedari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. 

Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya. (Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH Abdurrahman Arroisy) 

Dalam hadis Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah

Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. 

Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita penzina dan dua hadis Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah. 

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik




 
Support : Creating Website | admin | Mas Template
Copyright © 2011. Panti-Asuhan-Muhammadiyah-Madiun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by admin wabsite PA Ponpes Muhammadiyah Madiun