ALAMAT : KANTOR PUSAT & ASRAMA PUTRI 1 JL. MERBABU NO 26 KODE POS 63121 TLP. 0351-453920, ASRAMA PUTRI 2 JL. JOIRANAN NO 25, ASRAMA PUTRA JL. TRENGULI NO 18B, rintisan mbs hamka jl poncowati demangan kota madiun
Diberdayakan oleh Blogger.
ASRAMA UPTODATE

Muhammadiyah dan NU Berbeda Pendapat Soal Awal Ramadhan 2014

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Juni 18, 2014 | 10.01

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan berbeda lagi dalam mengawali Ramadhan 1435 Hijriah, karena Muhammadiyah sudah menetapkan pada 28 Juni 2014, sedangkan NU memperkirakan pada 29 Juni 2014.

"Muhammadiyah menetapkan awal puasa jatuh pada 28 Juni 2014, dasarnya menurut Hisab Hakiki dengan kriteria Wujudul Hilal," kata Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim H Nadjib Hamid di Surabaya, Ahad (1/6).

Dia mengatakan Ramadhan akan berbeda lagi (dengan NU), namun lebaran Idul Fitri nampaknya sama (bareng). Dengan dasar/kriteria itu, ijtimak menjelang Ramadhan terjadi pada hari Jumat tanggal 27 Juni 2014 pukul 15.10 WIB. Saat matahari terbenam, hilal (rembulan usia muda yang menjadi tanda pergantian awal kalender) sudah wujud dengan ketinggian 31 menit dan 17 detik.

"Artinya, 27 Juni malam sudah shalat tarawih, jadi diperkirakan tidak bersamaan lagi, karena kurang dari 2 derajat, tapi hari raya (Idul Fitri) akan bersamaan," katanya.

Secara terpisah, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur HM Sholeh Hayat yang juga koordinator Rukyatul Hilal PWNU Jatim itu menegaskan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Minggu tanggal 29 Juni 2014 sekitar pukul 15.20 WIB sore dengan posisi hilal 0,085 derajat.

"Karena posisi hilal yang sulit dirukyat itu, maka bulan Sya'ban diistikmalkan (digenapkan/disempurnakan) menjadi 30 hari, tapi hal itu masih merupakan hasil hisab (perhitungan matematis) dan NU masih akan melakukan rukyatul hilal (perhitungan awal kalender dengan melihat hilal secara kasat mata)," papar Sholeh.(rol/SP)

Kata pak Ustadz; ”Ayok bantu melunasi angsuran masjid Panti 166 ribu perbulan.”

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Mei 19, 2014 | 13.45


Kami membuka ladang waqaf  untuk pembangunan Masjid Jami’ Ashobirin ukuran 17 x 16 m2 , kamar mandi 2 lokal 5 x 6 m2, dan rumah Ustad 6 x 7 m2  total dana yang dibutuhkan sebesar 900.000.000,- (sembilan ratus juta rupiah). Alhamdulillah  progress pembangunannya sampai saat ini sudah 30 persen.

kami membuka kesempatan waqaf bangunan per 1 (satu) M2 Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) dan bisa diangsur  Rp 166.000,- selama 24 bulan. Selain waqaf kami juga menerima Infaq, Shodaqah, donasi, serta sumbangan material  kepada Bpk/Ibu/Saudara/i sekalian dengan  mengirimkannya ke:
  • Rekening Waqaf di Bank BNI: 0328790451
  • Rekening Infaq di Bank  BRI: 0045-01-005840-50-0
  • Rekening Shodaqah di Bank Syariah Mandiri: 2600011851
  • Rekening Donasi di bank Muamalat: 0204554259
  • Untuk material di Jl. Poncowati Demangan (Belakang kantor CPM)
Semua rekening di atas a.n. Panti Asuhan Muhammadiyah setelah mentransfer mohon menginformasikannya ke; 085755563295 (Indosat) a.n Arif sugianto, 081217739043 (Telkomsel), 0351-7713610 (Flexi) a.n Ust. Rokhani Hidayat, 087858101087 (XL) a.n Sri Widyawati
Informasi lebih lengkap bisa mengunjungi:
·         Fb                    : Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun
·         Website           : Pa-ponpes-muhammadiyah-madiun.blogspot.com
·         E-mail              : pa.ponpes.muh@gmail.com
perkembangan Masjid Jami' Ashobirin

Tidak untuk di Baca! "Arti sebuah pengorbanan"

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Maret 01, 2014 | 12.50

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa pengorbanan dalam hidup adalah sebuah keharusan.
Terkadang sebagian kita beranggapan kesusahan dan kesempitan hidup yang kita alami membuat kita berfikir tidaklah perlu mengorbankan sebagian apa yang kita punya, karena pada dasarnya kesusahan dan kesempitan itu telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dan kelapangan hidup.  Disadari atau tidak dampak dari sebuah pengorbanan sekecil apapun yang kita lakukan mampu membuat yang tidak mungkin dalam hidup kita menjadi mungkin, yang dulunya hanya sebuah angan-angan dapat menjadi kenyataan. Mengapa demikian? 

Karena itu merupakan kemuliaan dari sebuah pengorbanan. Perlu kita ketahui bahwa orang mulia bukan karena apa yang dimilikinya, melainkan pengorbanannya untuk memberikan manfaat pada orang lain. Dengan pengorbanan, Allah SWT menyayangi kita, manusia menghargai kita, malaikat mendoakan memohonkan rahmat untuk kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 15: 

 "Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasulnya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya)."

Dalam sebuah kisah, yang dikutip dalam buku yang berjudul Bukan Untuk Dibaca The Inspiring Story karya Deassy M. Destiani. Mari kita simak sejenak sebagai renungan, Aku dilahirkan di dusun pegunungan yang sangat terpencil dengan udara yang sangat dingin. Setiap hari orang tuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik tiga tahun lebih muda dariku. Saat itu aku 11 tahun dan adikku 8 tahun. Suatu ketika untuk membeli sapu tangan yang gadis-gadis di sekelilingku memakainya, aku mencuri 10 sen dari laci ayahku. Namun ayahku segera menyadarinya, beliau membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok dengan tongkat bambu di tangannya. 

“Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya. Aku terpaku karena terlalu takut untuk berbicara. “Baiklah, karena tidak mengaku kalian berdua layak dipukul!” lanjut ayahku, dan ayah mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Namun tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”. Tongkat panjang itu pun menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Sesudahnya ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi “Kamu sudah belajar mencuri di rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kau lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”. Malam itu aku dan ibu memeluk adikku dengan tubuh yang penuh luka sambil menangis tetapi ia tidak meneteskan air mata sedikitpun. Tangan kecilnya menutup mulutku yang terus menangis sambil berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang, semuanya sudah terjadi”. Sejak saat itu aku sangat membenci diriku karena tidak punya cukup keberanian untuk mengakui kesalahanku. Meskipun telah bertahun-tahun berlalu rasanya kejadian itu terasa baru terjadi kemarin. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di ibu kota kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima di sebuah universitas di ibukota provinsi. Malam itu ayah duduk di depan rumah sambil menghisap tembakau ditemani ibu. Aku mendengarnya bergumam, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik”. Ibu mengusap air matanya dan menghela napas sambil berkata, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Sepontan adikku berlari keluar dan berkata “Ayah aku tidak usah melanjutkan sekolah, sudah cukup membaca banyak buku.” Tangan ayah yang kokoh mendarat di pipi adikku dan kemudian berkata “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat? Meski harus mengemis aku akan membiayai kalian berdua sampai selesai!”. 

Dan begitulah ia mulai mengetuk setiap pintu rumah tetangga kami untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku ke muka adikku yang membengkak, “Seorang anak laki-laki harus sekolah setinggi-tingginya, jika tidak maka akan tetap terbelenggu dalam kemiskinan, dan aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke universitas”. Siapa sangka keesokan harinya adikku meninggalkan rumah dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku “Kak masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas itu dan menangis hingga suaraku hilang. Tahun itu, aku berusia 20 tahun dan adikku 17 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkuti semen pada punggungnya di lokasi proyek pembangunan, akhirnya kuliahku hingga tahun ke tiga di universitas. Malam itu aku sedang belajar di kamar kosku dan tiba-tiba temanku memberitahu “Ada penduduk dusun yang mencarimu di luar”. Seketika aku keluar dan kaget melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu dengan baju lusuh dan penuh pasir, “mengapa kamu tidak bilang pada temanku kalau kamu adikku?” kataku sambil ku bersihkan sisa pasir dan semen dari bajunya. Sambil tersenyum adikku menjawab, “Lihat penampilanku. Apa yang akan mereka pikir, jika tahu aku adalah adikmu? Mereka akan menertawakanmu”. Air mataku kembali membentuk anak sungai di pipiku, “Apapun keadaanmu, kamu tetap adikku, aku tak peduli omongan siapapun!”. Adikku mengeluarkan sebuah jepit rambut indah berbentuk kupu-kupu dari sakunya dan menyelipkannya di rambutku sambil berkata, “Aku melihat banyak teman-temanmu memakainya, jadi kupikir kamu juga harus memilikinya”. Segera ku tarik tubuhnya yang kurus ke dalam pelukanku dengan tangisanku yang tersedu-sedu. Tahun itu, adikku genap 23 tahun dan aku 26 tahun. Aku akan menikah rumahku diperbaiki, kaca jendela yang pecah juga telah diganti. Aku bilang pada ibu, “Ibu tidak perlu repot-repot membersihkan rumah, biar aku saja”. Sambil tersenyum ibu menjawab, “Semua itu adikmu yang melakukannya, apa kamu tidak melihat tangannya terluka kena kaca yang pecah?”. Aku masuk ke kamar sempit adikku, melihat mukanya yang kurus seratus jarum serasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep ke tangannyan, “Pasti ini sakit?” tanyaku. “Tidak, tidak sakit kak, kamu tahu kak saat aku bekerja di proyek, batu-batu sering berjatuhan mengenai kakiku, bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan...”, di tengah kalimat itu ia berhenti karena aku membalikkan tubuhku karena tak mampu menahan air mataku. Saat aku sudah menikah, perekonomianku membaik karena suamiku menjadi direktur di perusahaannya. Dan aku mengajak kedua orang tuaku dan adikku untuk tinggal bersama, namun mereka menolak. “Kak jagalah mertuamu saja, aku akan menjaga ibu dan ayah di sini”, penolakan adikku. Suamiku menginginkan adikku menjadi manajer di departemen pemeliharaan di perusahaan yang dia pegang, namun lagi-lagi dia menolak dan memilih menjadi pekerja reparasi. Suatu hari adikku masuk rumah sakit karena jatuh dari ketinggian akibat tersengat listrik. Aku dan suamiku menjenguknya. Melihat gips putih di kakinya aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Menajadi manajer tidak akan pernah melakukan hal yang membahayakan seperti ini! Lihat kamu sekarang luka yang begitu serius, mengapa tidak mau mendengar kami sebelumnya?”.  Adikku mengeluarkan pembelaannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, gosip seperti apa yang akan tersiar di kantornya?”. Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dengan terbata-bata aku berkata, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”. Adikku menggenggam tanganku, “Mengapa membicarakan masa lalu?”. Waktu terus berlalu, ketika adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis dari dusun. Dalam acara pernikahan, pembawa acara bertanya padanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”. Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku” ia melanjutkan cerita yang tidak bisa aku ingat sama sekali. “Ketika aku pergi ke sekolah SD yang terletak di dusun lain. Setiap hari aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk sampai ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku dan kakakku memberikan satu dari sarung tangannya padaku dan ia memakai hanya satu dengan jarak yang jauh itu. Setibanya di rumah tangan kakaku sangat gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai-sampai tidak dapat memegang sendoknya untuk makan. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya”. Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Aku tak dapat berkata apa-apa air mataku sangat deras mengalir dan dadaku sesak.

Begitulah Allah menampakkan kemuliaan pengorbanan hambanya yang ikhlas, pertolongan itu datang dari arah yang tidak disangka sebelumnya yaitu melalui adiknya. Keluar dari cerita di atas, kita sebagai umat muslim, seperti apapun kondisi kita, berapapun usia kita saat ini, pertanyaan yang mendasar untuk kita semua seberapa banyak pengorbanan yang telah kita lakukan untuk meringankan beban orang lain dengan cara saling tolong menolong, meskipun melalui hal yang sangat kecil? Bukankan masih jelas dalam ingatan kita QS. Al-Maidah ayat 2 Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong,
                                                                                                                               
 Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
 
Jika kita masih bisa menjawab dengan satu pengorbanan yang pernah kita lakukan, mungkin kita tidak terlalu malu dihadapan Allah. Jika kita hanya berharap kebaikan dan pengorbanan orang lain terhadap kita, bagaimana kita hendak mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah. Mungkin sebagian dari kita bergumam dalam hati, saya kan orang miskin, bisa makan setiap hari saja sudah untung, atau masih untung gaji bulanan saya bisa sampai satu bulan, bagaimana mau berkorban atau menolong orang lain? Sudahkah kita lupa nikmat yang Allah berikan kepada kita, berupa nikmat sehat, akal, panca indra yang lengkap dan masih banyak lagi. Mengapa itu tidak kita gunakan untuk sebuah pengorbanan yang berarti bagi orang lain? Hanya sekedar senyum pada saudara kita, barangkali dapat meringankan hatinya yang sedang sedih, atau hanya sekedar menjaga lisan untuk tidak menyakiti orang lain. 

Jangan menyimpan banyak alasan untuk menghindari sebuah pengorbanan. Karena sesungguhnya hal itu akan menuntun kita pada pengingkaran nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita menginginkan nikmat Allah selalu terlimpahkan kepada kita maka jangan sekali-kali mengingkarinya dengan tidak mensyukurinya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita sebanyak 30 kali dalam QS. Ar-Rahman untuk tidak mendustakan nikmatnya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mari kita bermuhasabah diri._pita_κύτες

Kesempatan Beramal Jariyah!


Kami membuka ladang waqaf untuk pembangunan  Masjid Jami’ Ashobirin guna pengembangan Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun menuju Pondok Pesantren Prof. Dr. Hamka Poncowati  yang total pembangunannya menghabiskan dana sebesar 650.000.000,-. Pembangunan masjid Jami’ Ashobirin merupakan program pembangunan Pondok Pesantren tahap I ukuran masjid yang direncanakan  17 x 16 M2 , kamar mandi 2 lokal 5 x 6 M2, dan rumah Ustad 6 x 7 M2. Alhamdulillah progress pembangunannya sampai saat ini sudah 20 persen
Bagi Bpk/Ibu/Saudara/i sekalian bisa menyalurkan waqaf, Infaq, Shodaqah, dan donasinya dengan
 mengirimkannya ke:
  • Rekening Waqaf di Bank BNI: 0328790451
  • Rekening Infaq di Bank  BRI: 0045-01-005840-50-0
  • Rekening Shodaqah di Bank Syariah Mandiri: 2600011851
  • Rekening Donasi di bank Muamalat: 0204554259
Semua rekening di atas a.n. Panti Asuhan Muhammadiyah setelah mentransfer mohon menginformasikannya ke; 085755563295 (Indosat) a.n Arif sugianto, 081217739043 (Telkomsel), 0351-7713610 (Fleksi) a.n Ust. Rokhani Hidayat, 087858101087 (XL) a.n Sri Widyawati
Informasi lebih lengkap bisa mengunjungi:
·         Fb                    : Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun
·         Website           : Pa-ponpes-muhammadiyah-madiun.blogspot.com
·         E-mail              : pa.ponpes.muh@gmail.com





Rakerpim Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Muhammadiyah Kota Madiun

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Januari 20, 2014 | 10.12

Bertempat di kantor pusat dan asrama I Jl. Merbabu 26 Kota madiun, 12/01, pengurus Pa Ponpes Muhammadiyah Kota Madiun menyelenggarakan rapat kerja pimpinan (rakerpim).
 Agenda   Rakerpim mengevaluasi program kerja tahun 2013 dan menyusun program kerja serta rencana anggaran belanja (RAB) 2014. Rakerpim yang dihadiri PDM Kota Madiun, Majelis Pelayanan Sosial (MPS), seluruh pengurus tersebut menghasilkan putusan penting yaitu segera dimulainnya pembangunan MBS Prof. Dr. Hamka Poncowati sedang RAB tahun 2014 dibutuhkan dana sebesar 1.320.000.000,-.

Dalam rakerpim tersebut juga dibahas masalah kepegawaian, kurikulum pendidikan santri, pembentukan organisasi santri (IPM Al Ma’un). “Secara kelembagaan kita mulai berbenah menuju panti  yang mandiri dan profesional guna menyongsong akreditasi lembaga sosial oleh kemensos,” jelas suyono, pucuk pimpinan Pa Ponpes Muhammadiyah Madiun.

Pak Yono, demikian sapaan akrapnya, mengatakan rakerpim merupakan agenda awal tahun yang akan diadakan secara rutin pada tahun yang akan datang. “ini harus menjadi agenda rutin, raker pim tahun ini fokus untuk  suksesi pemdirian MBS lewat agenda penggalian dana, penataan manajemen serta branding,”tambah pria yang juga PK I STISIP Muh Madiun tersebut.

Melihat recana kerja dari pengurus yang teragendakan dalam materi rakerpim, Eddie Sanyoto, ketua PDM Kota Madiun, memberi masukan perlunya penambahan program kerja yakni pendaftaran anak asuh untuk mengikuti program jaminan kesehatan nasional di BPJS dan perlunya menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluaran dalam RAB.
Sedang ketua MPS PDM kota Madiun, Warsito, menanggapi perlunya peningkatan sinergi antara pemilik dengan PA Ponpes Muhammadiyah Kota Madiun. _ arif sugianto

Dakwah PDPM Kota Madiun Siap On Air

Jajarah Pengurus Harian (PH) PDPM Kota Madiun
“Membangun Pemuda Muhammadiyah yang mandiri, tangguh, Kritis, dan idealis” tema yang diambil Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Madiun dalam acara Rapat Pimpinan (Rapim) PDPM Kota Madiun bertempat di gedung SD Kreatif Muhtadi,12/01. 


Acara yang dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah-Aisyiyah Kota Madiun, PWPM Jatim, organisasi Otonom, dan seluruh kader PDPM Kota Madiun tersebut berlangsung khidmat dan semarak, hal ini terbukti dengan keputusan sidang yang dihasilkan diantaranya pendirian cabang di tingkat kecamatan dan cabang istimewa di AUM, konsolidasi internal, rencana pendirian masjid, pengelolaan radio Gess FM STISIP MUH untuk dakwah.
LPJ Pimpinan

Hidayatul Rizkon, PW PM Jatim, dalam sambutan pembukannya menyampaikan saatnya Pemuda Muhammadiyah berperan dalam menangani  masalah kebangsaan dan menjadi pemuda tangguh dan mandiri. “Dakwah di pemerintahan sangat strategis makanya mari kita ambil,” tegas aktivis asal Ngawi ini.

Terpisah, Achmad Darsono, PD Muhammadiyah Kota Madiun, menyampaikan pemuda itu harus tegas. “Dalam menyanyikan lagu Sang Surya sikapnya harus tegap tidak tangannya didepan,” sarannya._arif sugianto

Peletakan Batu Pertama Pengembangan Panti Asuhan YP Muhammadiyah Madiun

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Desember 16, 2013 | 11.26

Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun 
Menuju Pondok Pesantren Prof. Dr. Hamka Poncowati (PP.HP)


Prof. Tohir Luth, MA (ketua PWM Jatim) saat meletakkan batu pertama
Alhamdulillah peletakan batu pertama Muhammadiyah Boarding School Prof. Dr. Hamka Poncowati Kota Madiun telah dilaksanakan 20 November 2013 yang lalu di lokasi Jl. Poncowati Demangan Kota Madiun oleh Prof. Dr. Tohir Luth, M.A (ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur). kami berdoa setelah dilakukan peletakan batu pertama semoga Kota Madiun pada umumnya dan Muhammadiyah daerah Madiun segera memiliki pondok pesantren. amiin.

Pejarah MBSHP berawal dari Panti Asuhan YP Muhammadiyah Madiun yang didirikan pada 30 tahun silam sejarah bisa dibaca di link ini), yang dilatar belakangi dengan kondisi kurang kondusif dan efektif  asrama panti asuhan untuk proses pendidikan atau pembinaan anak asuh serta melihat kondisi sosial masyarakat yang semakin banyaknya ditemui anak yang kurang beruntung dan tidak tertangani maka pengurus panti asuhan bertekan mentransformasikan diri mengembangkan panti asuhan menjadi pondok pesantren Prof. Dr. Hamka Poncowati Kota Madiun agar permasalahan tersebut tertangani, komplek yang representatif untuk pendidikan dan pembinaan serta bisa menampung banyak santri lagi.
Tamu yang hadir saat peletakan batu pertama MBSHP
tepatnya pada tahun 1982 (

Peletakan batu pertama MBSHP menandakan proses pendirian Pondok Hamka ini dimulai, meskipun demikian belum bisa dilaksanakan dengan cepat karena dana yang dibutuhkan mencapai 2.5 milyar. maka dari itu kami mengajak segenap kaum muslimuin dimanapun berada utuk ikut berpartisipasi mewujutkan cita-cita tersebut, bagi bpk/ibu/saudara/i yang berkenan ikut dalam program akhirat tersebut telah dibuka program Waqaf Tunai untuk Panti Asuhan (WAKTUnya ke Panti).

Saat acara peletakan batu pertama MBSHP berlangsung semarak karena selain dihadiri masyarakat juga dihadiri pejabat teras muhammadiyah kota madiun, pejabat pemerintahan, dan donatur. Acara semakin
dukungan dari Sesepuh Muhammadiyah
semarak saat dukungan penanpilan dari drum band MI Muhammadiyah Kota madiun dan denser siswa SD Muhtadin.


acara yang dimulai pukul 13.00 tersebut dimulai dengan sambutan pimpinan panti asuhan muhammadiyah Kota madiun, ketua Majlis Pelayanan Sosial Kota Kadiun, dan Prof. Dr. Tohir Luth, MA.
Prof Tohir demikian sapaan akrapnya dalam sambutannya mengaku haru dengan yang telah dilakukan Muhammadiyah Kota Madiun. "Ini layak masuk Muri karena dalam satu hari  6 buah AUM dimulai proyek pembangunannya," ungkapnya.


Guru besar Univ. Brawijaya ini berpesan bagaimanapun caranya pondok pesantren ini harus segera diwujudkan agar kader-kader ulama segera lahir untuk mengisi dan mengatasi persoalan dalam masyarakat, bangsa dan negara terlebih muhammadiyah.


 
Support : Creating Website | admin | Mas Template
Copyright © 2011. Panti-Asuhan-Muhammadiyah-Madiun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by admin wabsite PA Ponpes Muhammadiyah Madiun