ALAMAT : KANTOR PUSAT & ASRAMA PUTRI 1 JL. MERBABU NO 26 KODE POS 63121 TLP. 0351-453920, ASRAMA PUTRI 2 JL. JOIRANAN NO 25, ASRAMA PUTRA JL. TRENGULI NO 18B, rintisan mbs hamka jl poncowati demangan kota madiun
Diberdayakan oleh Blogger.
ASRAMA UPTODATE

Kader IMM Sabet Juara Dalam The 5th ASEAN-Korea Frontier Forum

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Desember 04, 2014 | 11.59

Busan-Ela Nofitasari, Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), menyabet Juara ke III dalam The 5th ASEAN-Korea Frontier Forumdi Busan, Korea Selatan 23 – 29 Nopember 2014. Ela Nofitasari sekaligus dinobatkan menjadi Duta Industri Pariwisata (Tourism Industry) Indonesia untuk ASEAN setelah mempresentasikan makalahnya dengan judul ASEAN as a Single tourism Destination.

Menurut Ela, acara yang dimotori oleh Asia exchange association republic of Korea Korea tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya yang dapat berbagi ide dan gagasan bersama sebelas delegasi ASEAN yang hadir. “Kami banyak berbagi ide dan gagasan akan  kemajuan perekonomian negara-negara di wilayah ASEAN, dan sisi lain juga sekaligus  membahasisu-isu global dan regional,” jelasnya melalui sambungan telepon, Selasa (2/12). Dalam makalahnya Ela menjelaskan, potensi industri pariwisata yang dimiliki oleh indonesia begitu besar serta dapat dioptimalkan untuk kemajuan bangsa, berkaca dari situasi itu, kemurnian alam dan sektor wisata harus tetap dijaga. Maka dari itu, kegiatan eksplorasi kekayaan alam yang ada, jangan sampai mengakibatkan kerusakan lingkungan yang akan menggerus potensi wisata.  Lebih lanjut menurut Ela, ada beberapa agenda yang membantu laju perkembangan industri pariwisata di ASEAN, diantaranya adalah faktor promosi di pasar global, penguatan kapasitas pelaku pariwisata, dan kebijakan yang pro terhadap pertumbuhan sektor wisata.

Agenda 5th ASEAN-Korea Frontier Forum iniadalah bagian dariperingatan kerja sama antara ASEAN dan Republicof Korea (ROK), dengan pokok bahasan diantaranya; Kerjasama Penanggulangan Bencana “Disaster management”,Industri Pariwisata “Tourism Industry” dan Penciptaan lapangan kerja untuk pemuda “Youth Job Creation”.Delegasi yang hadir dalam pertemuan ini berasal dari sebelas Negara, yakni; Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam, Republik of Korea, Indonesia, Laos, Malaysia, Brunei Darussalam, Cambodia. (mac). (muhammadiyah.or.id)

Ceramah Buya Hamka: Dari Gelap Menuju Terang


Theme Shong Muktamar Muhammadiyah 47


Debat-Nikah Beda Agama; Ulil Absar Abdala vs Tokoh Muda Muhammadiyah Part 1


Debat Nikah Beda Agama Part 2 : Ulil Absar Abdala vs Tokoh Muda Muhammadiyah


Politikus Belanda: Kami Tidak Ingin Ada Islam di Belanda

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM -- Politikus sayap kanan Belanda, menyerukan penutupan masjid di Belanda. "Integritas, identitas, dan budaya Belanda dirusak oleh imigrasi dan inkubasi. Kami tidak ingin Islam ada di Belanda," kata Anggota Partai Kebebasan Belanda (PVV), Machiel de Graaf, seperti dilansir Daily Hurriyet News, Kamis (4/12).

Menurut Machiel, Belanda lebih baik tanpa ada masjid. Ini karena, umat Islam Belanda menolak untuk berasimilasi. Mereka (umat Islam-red) memiliki banyak anak sehingga mengancam identitas dan budaya Belanda.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Turki menyayangkan tuduhan agresif dan rasis yang dialamatkan kepada komunitas Turki di Belanda. Turki memperingatkan Belanda masalah itu akan mengganggu hubungan kedua negara.

"Tuduhan itu tidak bisa diterima. Kami sulit memahami mengapa ada serangan rasis yang tidak sesuai dengan hubungan kedua negara," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Sumber anonim mengatakan kepada Asyur International News Agency bahwa para pejabat dari Turki dan Belanda sepakat "integrasi tidak berarti asimilasi".

Menurut CIA World Factbook, Islam adalah agama terbesar kedua di Belanda. Jumlahnya diperkirakan sekitar lima persen dari populasi Belanda.

Cara Pandang Konspiratif

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Tidak ragu lagi, salah satu warisan (legacy) Islam yang berkembang pesat dalam masa setengah abad terakhir adalah lembaga pendidikan Islam (PTAI), baik negeri (PTAIN) maupun swasta (PTAIS). Bermula dari Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian Fakultas Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945,  PTAIN secara sederhana berawal dengan pendirian pendidikan kedinasan Kementerian Agama berupa Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Ciputat dan PerguruanTinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta pada 1957.

Cerita selanjutnya adalah ekspansi PTAIN ketika ADIA dan PTAIN meninggalkan status pendidikan kedinasan menjadi IAIN sejak 1960. Sepanjang tahun-tahun akhir pemerintahan Orde Lama dan awal Orde Baru satu persatu IAIN didirikan di banyak ibukota provinsi dengan fakultas cabang di sejumlah kota kecil. Berikutnya, pada 1997 seluruh fakultas cabang tersebut memperoleh peningkatan status menjadi STAIN.

Terakhir sejak 2002 sampai 2014. 10 IAIN dan satu STAIN menjadi UIN—sebuah nomenklatur baru dalam pendidikan tinggi Islam. Dalam waktu yang sama sejumlah STAIN menjadi IAIN. Hasilnya, kini terdapat 56 PTAIN yang terdiri dari 11 UIN, 24 IAIN dan 21 STAIN. Kini juga terdapat perguruan tinggi agama negeri  Kristen (STAKN) dan Hindu (STAHN dan IAHN).

Mengamati perkembangan PTAIN, riwayatnya seolah menjadi pembuktian argumen Harry J. Benda dalam The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation, 1942-1945 (1958). Meminjam argumennya, sejak masa Jepang dan kemerdekaan, sejarah Islam Indonesia tak lain riwayat ekspansi kaum santri dengan proses ‘santrinisasi’ lewat IAIN khususnya.

Hal yang sama juga ditegaskan MC. Ricklefs, sejarawan Australia terkemuka. Dalam karya terakhirnya, Islamization and Its Opponents in Java: A Political, Social, Cultural and Religious History, C. 1930 to the Present (2012), Ricklefs menyimpulkan, IAIN memainkan peran penting dalam proses Islamisasi yang menurut dia ‘tidak bisa dihentikan atau dimundurkan’.

Karena itu, perkembangan PTAIN dan kajian Islam yang menyertainya perlu dirayakan secara reflektif dan evaluatif agar dapat memberi kontribusi lebih besar lagi bagi negara-bangsa Indonesia. Terkait dengan hal itu, penulis Resonansi ini beruntung dapat turut merayakan sebagai narasumber dalam beberapa konperensi tentang kajian Islam pada Program PascaSarjana UIN Yogyakarta (18/11/2-14), Program PascaSarjana UIN Surabaya (20/11), Konperensi Internasional Tahunan Kajian Islam (AICIS XIV, IAIN Samarinda, 21-24/11/2014), dan IAIN Banjarmasin (25/11).

Dalam merayakan PTAIN dan Kajian Islam, juga sepatutnya penghargaan diberikan kepada mereka yang telah ikut mengasuhnya baik sarjana dan praktisi pendidikan dari lingkungan PTAIN sendiri, maupun kalangan luar yang turut mengabdikan diri dalam pengembangan PTAIN khususnya sejak masa IAIN sampai STAIN dan UIN.

Di antara sarjana asing yang turut membantu pengembangan IAIN adalah Karel Steenbrink dan Martin van Bruinessen, keduanya asal Belanda, yang masing-masing pada 1970an dan 1980an mengajar dan membantu pengembangan Program PascaSarjana di IAIN Yogyakarta dan IAIN Jakarta. Mereka memberikan kontribusi tidak hanya dalam penguatan pendekatan baru dalam kajian Islam yang lebih bersifat historis, antropologis dan sosiologis, tetapi juga menghasilkan lulusan S2 dan S3 yang kemudian memainkan peran penting dalam pengembangan IAIN dan Program PascaSarjananya.

Meski banyak kemajuan PTAIN dan kajian Islam, masih ada kalangan yang tidak bisa menggunakan nalar obyektifnya, dan sebaliknya menggunakan cara pandang konspiratif. Misalnya, dalam konperensi internasional ‘Dynamics of the Studies on Indonesian Islam: Tribute to Karel Steenbrink and Martin van Bruinessen’ di Program PascaSarjana UIN Sunan Kalijaga’ seorang audiens dalam kesempatan tanya jawab menyatakan tentang adanya ‘konspirasi’ jahat untuk  meminggirkan Islam dan Muslim di Indonesia.

Lebih jauh dengan cara pandang konspiratif, dia mengutip kembali dikotomi usang tentang ‘minna’ dan ‘minhum’ terkait politik dan pemerintahan. Dengan oposisi biner’ ini, pemerintahan yang ada bukanlah pemerintahan umat—bukan ‘dari kita’ (minna).

Cara pandang konspiratif jelas sangat merugikan. Pertama, menciptakan ‘majority with a minority complex, ungkapan sosiolog Belanda, W.F. Wertheim ketika mengamati sosiologi umat Islam Indonesia di masa Presiden Soekarno. Cara pandang seperti ini sempat bertahan dalam psikologi sebagian umat Islam Indonesia pada masa Orde Baru. Akibatnya, mereka terhinggapi perasaan menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Meski cara pandang konspiratif sebagian besarnya memudar sejak 1990an, masih ada saja yang ‘menyanyikan lagu lama’ ini. Cara pandang seperti itu sepatutnya diganti dengan kacamata lebih positif; bersyukur dengan kemajuan yang telah dicapai, mengoreksi hal-hal yang belum pada tempatnya dan turut melakukan apa yang bisa dilakukan untuk lebih memajukan umat dan negara-bangsa Indonesia.

Foto Anak Asuh dan Pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun

Written By pa-ponpes-muhammadiyah-madiun on Desember 03, 2014 | 13.51

Anak Putra dan Kepala Asrama 
Pembaca yang budiman, sudah sering kita mendengar nama Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun atau mungkin juga sering berkunjung tapi kok belum tau pengurus dan anak anak. Nah, lewat media ini admin akan up load foto terbaru pengurus dan anak-anak, anak yang ad di Panti Asuhan Muhammadiyah Madiun dari banyak daerah lho ada dari Kota Madiun, Kab. Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Solo, Sragen, dan yng paling jauh dari NTT. Kok malah nglantur, ini langsung saja foto anak-anak dan pengurus:
Pengurus dan Pengasuh

Perwakilan Anak Putri Asrama Joiranan dan Kepala Asrama
Anak Putri Asrama Merbabu dan Kepala Asrama






C-Tech Labs dan PP Muhammadiyah Kerjasama Kembangkan Aplikasi 4D Brain ECVT

Jakarta - Kerjasama pengembangan aplikasi 4D Brain ECVT yang telah diklaim menjadi alat pemindai aktivitas otak tercepat di dunia tengah dilakukan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan C-Tech Labs Edwar Technology. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan di Aula Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Universitas Muhammadiyah Jakarta, Rabu (26/11), diikuti rangkaian acara seminar deteksi dini penyakit sistem syaraf pusat dan aplikasi teknologi 4D Brain ECVT. Pengembangan aplikasi instrumen pencitra aktivitas otak ini akan dilakukan di Jaringan Amal Muhammadiyah seluruh Indonesia.

Seiring berkembangnya neurosains, meningkat pula kebutuhan akan metode yang mampu mengamati perubahan aktifitas fungsi sistem saraf pusat secara non-invasif. Permasalahannya adalah, perubahan aktifitas yang berlangsung dalam hitungan mili detik ini belum bisa dideteksi dengan kecepatan tinggi melalui instrument pencitraan otak yang lazim digunakan saat ini seperti positron emission tomography (PET) maupun functional MRI (fMRI). Hingga saat ini, perekaman dengan kecapatan tinggi aktifitas fungsi sistem satraf pusat bisa dilakukan dengan electroencephalography (EEG). Namun, instrumen ini memiliki kelemahan dalam hal resolusi spasial, utamanya tidak bisa mendeteksi bagian dalam otak secara non-invasif.

Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, C-Tech Labs Edwar Technology mengembangkan instrumen pencitraan otak yang dinamakan 4D Brain electrical capacitance volume tomography (ECVT). “4D Brain ECVT mampu mendeteksi properti dielektrik di dalam suatu objek, sehingga struktur anatomi abnormal bisa terdeteksi dan aktifitas fungsi sistem saraf pusat mampu diamati secara non-invasif dengan kecepatan tinggi,” tutur Dr. Warsito Purwo Taruno, M. Eng, CEO C-Tech Group sekaligus inventor teknologi ini. Selain itu, 4D Brain ECVT bersifat mudah dibawa, aman, dan berbiaya murah. Perekaman bisa dilakukan secara sederhana tanpa membutuhkan tempat khusus, sehingga bisa dilakukan di berbagai tempat seperti poliklinik. Alat ini diklaim dapat memindai otak dalam waktu tercepat di dunia, 1/2000 detik.

Upaya mendiagnosis adanya struktur sistem saraf pusat yang bersifat abnormal menjadi lebih mudah sejak ditemukannya computed tomography scan (CT-Scan) dan magnetic resonace imaging (MRI). Akan tetapi, metode ini memiliki berbagai kendala seperti tidak bersifat mudah dibawa, membutuhkan tempat khusus, dan berbiaya tinggi. Berbeda dengan 4D Brain ECVT, melalui pencitraan otak yang dilakukan secara non-invasif, alat ini mampu melihat struktur anatomi dan aktifitas fungsional sistem saraf pusat di manapun, murah, dan tak memiliki efek samping. (dzar)

Muhammadiyah Akan Dirikan Puskesmas Terapung

Magelang - Keterbatasan fasilitas kesehatan di Indonesia bagian Timur membuat sejumlah pengurus di Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tergerak. Mereka segera akan merealisasikan ide pendirian puskesmas apung untuk masyarakat di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin menjelaskan, ide pendirian puskesmas apung tersebut lahir dari pemikiran Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Sikka, Nusa Tenggara Timur, H Rosyid.
Ide itu muncul karena di delapan pulau yang ada di NTT tersebut minim fasilitas kesehatan. Menurutnya, ide pendirian puskesmas apung kemungkinan baru pertama kali ada di Indonesia.

"Ini ide yang cemerlang, kami (Muhammadiyah) merespon positif gagasan ini. Puskesmas apung ini, secara berkala akan mendatangi penduduk yang tinggal di pulau-pulau untuk memberikan layanan kesehatan," jelasnya usai membuka Rakernas Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang, Sabtu (29/11/2014).

Din bahkan berharap puskesmas apung sudah harus bisa diwujudkan sebelum Agustus 2015 atau sebelum Muktamar Muhammadiyah dilaksanakan. Sehingga, pelayanan kesehatan bagi masyarakat di delapan pulau besar di Sikka itu dapat terlayani dengan baik. (dzar)

Bersedekah Saat Sehat

Bersedekah Saat Sehat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, ‘Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian,' padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis di atas memberikan pelajaran penting kepada kita mengenai saat sedekah yang akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah SWT, salah satunya adalah bersedekah saat diri kita sedang sehat.
Besarnya pahala yang didapat orang yang bersedekah pada saat sehat dikarenakan pada umumnya manusia akan merasa pelit ketika berada dalam keadaan sehat.

Bila ia bersedekah dalam kondisi sehat hal itu menjadi bukti akan kesungguhan niatnya dan begitu besar kecintaannya kepada Allah SWT. Inilah yang menjadikan bersedekah pada waktu sehat adalah sedekah yang utama dan berpahala besar.

Berbeda halnya dengan mereka yang sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk sehat. Sementara, ia memandang hartanya akan menjadi milik orang lain maka ketika itu sedekahnya merupakan suatu kekurangan. Karena itu, bersedekah pada saat sehat merupakan bagian penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini.

Jangan sampai nikmat sehat yang Allah SWT anugerahkan kepada kita kosong dari amal saleh, salah satunya kosong dari bersedekah. Selain berpahala besar, ketika kita bersedekah pada saat sehat akan menjadikan kita golongan orang yang menyegerakan amal kebaikan.

Hal ini dapat kita pahami dari hadis Rasulullah SAW, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datang tujuh hal; tidaklah kamu menantikan kecuali kemiskinan yang menimbulkan kelalaian, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang merusak, ketuarentaan yang melemahkan akal, kematian yang membunuh dengan cepat, atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat itu lebih berat dan lebih pahit (pedih).” (HR Tirmidzi).

Selain itu, bersedekah pada saat diri kita sehat sama dengan mensyukuri nikmat kesehatan. Itu karena bukti mensyukuri nikmat sehat adalah mempergunakan nikmat sehat itu dengan melakukan ketaatan kepada-Nya yang salah satunya mengisi nikmat sehat dengan banyak bersedekah.

Lainnya, bersedekah pada saat sehat termasuk orang yang diutamakan karena kebanyakan manusia sering melupakan nikmat sehat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Untuk itu, selagi sehat, mari isi kesempatan yang Allah anugerahkan ini dengan memperbanyak amal kebaikan, di antaranya, dengan bersedekah agar mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan dari Allah SWT. Wallahu’alam. (REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam)
 
Support : Creating Website | admin | Mas Template
Copyright © 2011. Panti-Asuhan-Muhammadiyah-Madiun - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by admin wabsite PA Ponpes Muhammadiyah Madiun